Kamis, 11 Feb 2010 17:30 WIB

Tak Perlu Khawatir, Pemanis Buatan Aspartam Aman

- detikHealth
Jakarta - Bahayakah mengonsumsi aspartam? Ternyata masih banyak saja orang-orang yang menanyakan hal itu. Apalagi baru-baru ini beredar pesan singkat beruntun yang mengancam keamanan beberapa produk minuman berbahan baku pemanis buatan tersebut. Benarkah aspartam berbahaya?

Jika Anda cermat melihat komposisi beberapa produk minuman, Anda akan menemukan kata aspartam di bagian kemasannya. Aspartam memang banyak digunakan dalam produk minuman sebagai pengganti gula sukrosa.

Di satu sisi, berbagai artikel, pengalaman pribadi dan golongan anti aspartam menghubungkan antara konsumsi aspartam dengan masalah kesehatan, mulai dari hiperaktif, pengerasan otak hingga impotensi. Di sisi lain, para ilmuwan dan peneliti melaporkan bahwa penggunaan aspartam baik-baik saja dalam dosis tertentu.

Untuk menanggapi kontroversi aspartam yang membuat teror di masyarakat, ada baiknya mengenal aspartam lebih dalam lagi.

Aspartam adalah pemanis buatan yang dihasilkan dari dua jenis asam amino dan metil alkohol. Aspartam punya kekuatan manis 160 hingga 220 kali lebih tinggi daripada gula sukrosa.

Penggunaan aspartam ditujukan untuk mengurangi jumlah kalori gula dan biasanya dipakai pada produk-produk diet atau untuk penderita dengan kebutuhan medis tertentu, seperti diabetes.

Gula sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh jika dikonsumsi dalam batas wajar. Satu sendok teh gula hanya menyumbang 16 kalori atau sekitar 67 kilojoule pada energi. Yang menjadi bahaya adalah jika seseorang mengonsumsinya dalam dosis berlebihan.

Tidak heran jika seseorang menyukai gula, karena secara genetik manusia memang terlahir untuk menyukai yang manis-manis. Untuk itulah pemanis buatan dibuat guna mengantisipasi asupan gula (sukrosa) berlebih yang bisa mengakibatkan kerusakan gigi dan masalah kesehatan lainnya.

Aspartam adalah salah satu pemanis buatan yang dibuat untuk mengatasi masalah tersebut. Tapi di balik sebuah inovasi pasti ada kontroversi, begitu juga dengan aspartam. Namun hingga saat ini, beberapa badan kesehatan dunia masih mengklasifikasikan aspartam sebagai pemanis buatan yang aman.

Menurut American Dietetic Association (ADA), pemanis aspartam aman dalam jumlah tertentu seperti yang direkomendasikan Food and Drug Administration (FDA). Hasil riset yang dilakukan FDA menyebutkan, aspartam masih dalam batas aman untuk manusia jika konsumsi per harinya sebanyak 50 mg/kg berat badan.

Sementara itu, European Commission's Scientific Committee on Food (SCF) jauh-jauh hari pada tahun 1998 sudah menyatakan bahwa aspartam aman. Namun karena banyak isu miring yang menyatakan aspartam berbahaya, maka SCF melakukan analisis data terhadap 500 studi tentang aspartam yang pernah ada sejak tahun 1998 hingga 2001.

Hasil analisis SCF menunjukkan, aspartam tetap aman dan tidak ada bukti kuat yang mengharuskan mereka mencabut pernyataan sebelumnya. Berdasarkan Acceptable Daily Intake (ADI), asupan aspartam yang direkomendasikan SCF adalah 40 mg/kg berat badan.

Meski semua pakar kesehatan sudah menyatakan aspartam aman, mengapa publik masih menganggap aspartam berbahaya?

Hal itu karena salah satu asam amino dalam aspartam adalah phenylalanine dan beberapa orang di dunia ini terlahir dengan kondisi genetik yang disebut phenylketonuria (PKU).

Penderita PKU tidak bisa memetabolisme asam amino phenylalanine dalam tubuhnya. Hal itu membuat penderitanya akan mengalami gejala mual-mual, pusing dan lainnya saat mengonsumsi produk yang mengandung aspartam.

Untuk itu sebaiknya produk-produk yang mengandung aspartam diberi label 'mengandung phenylalanine' atau 'tidak disarankan untuk penderita phenylketonuria' untuk mengingatkan konsumen akan kandungan phenylketonuria yang bisa memicu ketidaknyamanan pada penderita PKU.

"Kontroversi ini akan terus terjadi jika publik tidak segera diberitahu. Publik harus menghormati studi panjang dan besar yang sudah dilakukan badan-badan kesehatan dunia. Mereka semua sepakat menyimpulkan bahwa aspartam aman untuk manusia, jadi tak perlu merasa khawatir atau takut berlebihan saat mengonsumsi produk yang di labelnya tercantum nama aspartam," ujar Dr Ingrid van Heerden seperti dilansir Health24, Kamis (11/2/2010). (fah/ir)