Rabu, 10 Nov 2010 10:30 WIB

Kapan Orang Perlu Melakukan Cuci Usus?

- detikHealth
Jakarta - Akibat pola makan yang kurang baik selama bertahun-tahun bisa terjadi penumpukan kotoran dan limbah dalam usus besar. Jika limbah tersebut tidak bisa dikeluarkan bisa menjadi racun yang membahayakan, dan salah satu teknik membersihkannya adalah dengan cuci usus.

Kenapa bisa terjadi penumpukan kotoran di usus besar?
Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam seperti limbah feses yang tidak hancur dan menyelip di usus besar, ada jaringan seluler yang mati, ada mukus atau cairan kental yang membungkus dinding usus, ada parasit, cacing dan lainnya.

Jika racun-racun itu tidak dikeluarkan oleh tubuh maka bisa masuk ke aliran darah yang berefek ke tubuh dengan gejala lemah, letih dan sering sakit-sakitan.

Dilansir dari MyOptumHealth, Rabu (10/11/2010), jika terjadi pembengkakan usus besar akan membuat orang kesulitan buang air besar. Jika kondisi seperti ini sudah terjadi maka cuci usus bisa menjadi jalan keluarnya.

Nah dengan cuci usus diharapkan semua penumpukan kotoran dalam usus besar bisa dibersihkan. Berbagai teknik pencucian usus diklaim bisa mencegah kanker usus serta mengurangi risiko berbagai penyakit imunitas seperti rematik dan asma.

Tapi sebelum memutuskan untuk mencoba, ada baiknya untuk tahu apa saja risikonya.

Usus merupakan tempat penyerapan nutrisi dari makanan. Sisa-sisa makanan hasil metabolisme yang tidak diserap akan dikeluarkan dalam berbagai bentuk, termasuk feses yang keluar melalui anus.

Karena berbagai hal, pengeluaran itu bisa terhambat sehingga terjadi penumpukan di usus besar. Jika terlalu lama menumpuk, dikhawatirkan racun tertentu yang terkandung dalam kotoran-kotoran itu akan terserap kembali oleh usus dan menyebabkan penyakit.

Dalam kondisi seperti ini, cuci usus bisa mencegah racun-racun itu terserap kembali oleh usus. Selama tekniknya aman dan memang kondisi tubuh membutuhkannya, cuci usus tentu boleh dilakukan.

Ada 2 teknik pencucian usus:


Pertama adalah dengan menggunakan laksatif atau pencahar.
Penggunaan laksatif punya efek samping jika digunakan secara berlebihan dan tidak sesuai kebutuhan. Di antaranya adalah ketergantungan yang memicu sindrom usus malas, serta efek samping lainnya seperti diare atau dehidrasi.

Kedua, teknik berupa colon hidrotherapy, yakni pencucian usus dengan cara memasukkan selang ke dalam usus lalu menyemprotkan air bertekanan rendah untuk membilas isi perut.

Penyemprotan air ke dalam usus bisa memicu penyerapan air secara berlebihan. Jika ini terjadi, maka dampaknya adalah ketidakseimbangan kimiawi di dalam tubuh yang bisa menyebabkan muntah, pusing, penumpukan cairan di paru dan bahkan serangan jantung.

Risiko lain dari penyemprotan usus dengan menggunakan selang adalah infeksi. Jika selang yang dipakai tercemar bakteri, maka bisa timul infeksi yang pada tingkat keparahan tertentu bisa menyebabkan perforasi atau lubang di usus.

Satu hal yang perlu diingat, tubuh punya mekanisme sendiri dan tahu betul bagaimana caranya mengeluarkan racun dan kotoran di dalam usus. Campur tangan terhadap proses alamiah bisa memicu gangguan, sehingga lebih aman jika dilakukan saat benar-benar dibutuhkan saja.


(up/ir)