1. Biaya periksa mahal
|
ilustrasi (foto: Thinkstock)
|
Nyatanya, saat ini pemerintah telah mengeluarkan program Jamkesmas yang menjamin masyarakat tak mampu mendapat pemeriksaan dan pengobatan gratis. Jamkesmas ini bisa didapatkan di seluruh puskesmas dan rumah sakit pemerintah di Indonesia
2. Dokter banyak terpusat di kota besar
|
ilustrasi (foto: Thinkstock)
|
Dengan kurangnya tenaga medis di daerah, maka jangan kaget jika para masyarakat di sana lebih memilih pengobatan alternatif, terutama yang sifatnya tradisonal. Selain lebih dekat, tabib lokal juga lebih memahami kebutuhan masyarakat setempat.
3. Dokter kurang terbuka tentang penyakit pasien
|
ilustrasi (foto: Thinkstock)
|
4. Dokter meresepkan obat mahal
|
ilustrasi (foto: Thinkstock)
|
Sebenarnya pasien tak perlu khawatir sebab dapat meminta resep obat generik kepada dokter apabila diberikan resep obat paten. Masalah akan muncul apabila sang dokter bersikeras dan menolak meresepkan obat generik kepada pasien.
5. Diagnosis dokter bisa beda-beda
|
ilustrasi (foto: Thinkstock)
|
Banyak ditemui kasus pasien yang mengunjungi beberapa dokter mendapatkan diagnosis yang berbeda-beda. Hal ini tentu membuat pasien jadi bingung dan mempertanyakan kompetensi dokter.
6. Dokter berkongsi dengan perusahaan obat
|
ilustrasi (foto: Thinkstock)
|
Salah satu contoh kasus ini terbongkar di Amerika Serikat yang melibatkan perusahaan farmasi internasional. Para dokter yang mau bekerjasama dengan perusahaan diberikan berbagai fasilitas istimewa meskipun tahu produk obat dari perusahaan sebenarnya bermasalah.
7. Masyarakat lebih percaya mistik dan pasrah dengan keadaan
|
ilustrasi (foto: Thinkstock)
|
Yang paling parah adalah adanya tindakan pengabaian terhadap penyakit. Beberapa orang ada yang menganggap bahwa penyakit adalah takdir dari Tuhan sehingga dibiarkan saja agar sembuh dengan sendirinya.
Halaman 3 dari 8











































