Rabu, 13 Feb 2013 18:02 WIB

Waspadai Gangguan Ini Jika Sering Deg-degan Tanpa Sebab yang Jelas

- detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Tiap kali cemas atau khawatir, tentu setiap orang merasa jantungnya deg-degan atau berdetak lebih kencang. Ketika itu jantung akan memompa darah lebih kencang dibanding biasanya. Tapi jika sering deg-degan tanpa sebab yang jelas, bisa jadi itu adalah gangguan irama jantung.

Gangguan irama jantung sebenarnya merupakan salah satu spektrum penyakit jantung yang luas. Gangguan ini bsia menjadi pertanda awal penyakit jantung yang serius. Gangguan ini muncul karena adanya kekacauan sinyal listrik yang berfungsi menstimulus otot jantung untuk memompa secara teratur.

"Sekitar 2 dari 5 penderita stroke disebabkan oleh gangguan irama jantung karena darah mengalir dengan tidak semestinya atau terjadi turbulensi," kata dr Daniel Tanubudi, SpJP, dokter spesialis jantung dari Eka Hospital dalam acara konferensi pers mengenai 'The 2nd Annual East Meets West Cardiology Symposium' di Ritz Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Rabu (13/2/2013)

Dr Daniel menjelaskan, gangguan irama jantung bisa disebabkan karena ada penyumbatan pada pembuluh darah. Jika sumbatan tersebut pecah dan masuk ke pembuluh darah di otak, bisa menyebabkan stroke. Yang mengkhawatirkan, stroke akibat gangguan irama jantung ini gejala lanjutannya seringkali lebih parah sebab penyumbatan yang terjadi bisa masuk ke pembuluh otak yang lebih hulu.

Gangguan irama jantung ditandai dengan detak jantung yang tak normal. Normalnya, jantung manusia berdetak sekitar 60 - 100 kali per menit. Detak jantung dikatakan tak normal jika kurang dari 60 detak per menit atau melebihi 100 detak per menit. Detak jantung yang tak normal sebenarnya bisa diperiksa sendiri dengan tangan kosong.

"Coba raba di pergelangan tangan di bawah jempol untuk mengukur denyut nadi, lalu hitung berapa banyak denyutnya dalam 1 menit," papar dr Daniel.

Gangguan irama jantung biasanya akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari karena penderitanya sering lemas, mudah capek, bahkan pingsan. Apabila irama jantungnya tak beraturan, terkadang lambat dan terkadang cepat, maka si penderita lebih berisiko terserang sudden cardiac death atau kematian mendadak akibat serangan jantung.

"Secara global, tingkat kelangsungan hidup akibat sudden cardiac death yang disebabkan gangguan irama jantung hanya 1 persen. Di Amerika Serikat, tingkat kelangsungan hidupnya bisa mencapai 5 persen," terang dr Daniel.

Sama seperti penyakit jantung pada umumnya, gangguan irama jantung merupakan akibat dari gaya hidup seperti pola makan yang tak sehat dan jarang berolahraga. Faktor-faktor penyakit jantung risiko seperti hipertensi dan kolesterol tinggi juga ikut menyumbang risiko terjadinya gangguan irama jantung.

Untuk mengatasinya, ada pengobatan yang disebut Elektrofisiologi dan Ablasi. Caranya, dokter akan mencari bagian jantung yang mengalami gangguan dengan memanfaatkan teknologi semacam GPS. Setelah ditemukan, daerah tersebut akan dihancurkan dengan gelombang radiofrekuensi.


(pah/vit)