Rabu, 07 Jun 2017 07:03 WIB

Saran Psikolog Soal Perilaku Anak di Medsos

Aisyah Kamaliah, Aisyah Kamaliah - detikHealth
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Perilaku di media sosial (medsos) tengah menajadi perhatian terkait maraknya hate speech, yang kemudian berkaitan juga dengan persekusi atau semacam perburuan dan tindakan main hakim sendiri oleh sekelompok orang. MUI (Majelis Ulama Indonesia) sampai harus mengeluarkan pedoman sendiri terkait hal itu.

Khususnya anak-anak, terkadang tidak berpikir panjang ketika mem-posting sesuatu di medsos. Termasuk untuk hal-hal yang bersifat sensitif dan memancing kontroversi.

Orang tua punya peran dalam kondisi seperti itu. Ketika anak menyampaikan argumen bernada negatif seperti 'aku benci hal ini' atau semacamnya, maka orang tua sebaiknya membuka ruang diskusi. Beri kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapat, sehingga tidak langsung lari ke medsos.

"Jangan langsung disalahkan, Anda bisa bertanya dari mana ia mendapatkan berita tersebut, mengapa hal itu dianggap salah atau benar, dan apa yang dia tahu dari isu tersebut," tambah Anna Surti Ariani, psikolog anak dan remaja dari Universitas Indonesia.

Baca juga: MUI Keluarkan Fatwa Penggunaan Medsos, Apa Saja yang Diharamkan?

Untuk hal-hal yang berhubungan dengan kekerasan, psikolog yang akrab disapa Nina ini mengingatkan adanya dampak negatif terhadap tumbuh kembang anak. Ketika terpapar oleh informasi-informasi negatif, maka otaknya akan bekerja menyimpan dan suatu saat me-recall memori-memori negatif tersebut.

"Bayangkan, disaat anak belum memiliki filter yang baik mereka harus menerima informasi-informasi yang sifatnya radikal. Jika suatu saat anak dihadapkan oleh masalah, data inilah yang diambil untuk pemecahan masalah," kata Nina.

Baca juga: Cegah Trauma Korban Persekusi, Ini yang Bisa Dilakukan Psikolog (up/up)
News Feed