Selasa, 05 Jul 2011 17:34 WIB

Pengantin Baru Lebih Suka KB Suntik Dibanding Pakai Spiral

- detikHealth
Jakarta - Di kalangan pasangan baru menikah, alat kontrasepsi sebagai sarana untuk merencanakan kehamilan belum terlalu diminati. Dari yang sudah memakai, kebanyakan lebih memilih kontrasepsi jangka pendek seperti KB suntik dibanding pakai spiral.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief dalam media briefing bertema 'Penggunaan Kontrasepsi untuk Mengurangi Angka Kematian Ibu di Indonesia' yang berlangsung di Hotel Intercontinental hari ini.

"Penggunaan kontrasepsi pada perempuan baru menikah baru 57,4 persen dan masih terfokus pada metode jangka pendek seperti suntikan KB 3 bulan. Perlu upaya untuk mempopulerkan metode jangka panjang seperti IUD (spiral) dan kontrasepsi mantap (sterilisasi)," ungkap Sugiri dalam rilis yang diterima detikHealth, Selasa (5/7/2011).

Sugiri menambahkan, penggunaan alat kontrasepsi dapat membantu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih tercatat sebesar 228/100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2007. Menurutnya, pemicu utama kematian ibu adalah komplikasi perdarahan saat melahirkan.

Komplikasi ini dapat muncul apabila perempuan melahirkan dalam usia terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering atau jarak kehamilannya terlalu dekat. Salah satu cara untuk mengurangi risiko adalah memakai alat kontrasepsi sehingga kehamilan bisa lebih terencana.

Kontrasepsi jangka pendek seperti KB suntik hanya melindungi pasangan dari kehamilan tidak diinginkan paling lama 3 bulan, lalu harus disuntik ulang jika belum ingin punya keturunan. Sementara kontrasepsi jangka panjang seperti IUD atau spiral bisa melindungi lebih lama, antara 5-10 tahun tergantung jenis spiralnya.

Terkait angka kematian ibu melahirkan, Indonesia dengan AKI 228/100 ribu kelahiran hidup masih jauh tertinggal dibandingkan Thailand dan Malaysia yang masing-masing memiliki AKI 44/100 ribu dan 31/100 ribu kelahiran hidup. Bakan rata-rata AKI di negara-negara berkembang se-Asia Timur dan Pasifik hanya sepertiga dari AKI di Indonesia.

Dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang harus dicapai tahun 2015, Indonesia memiliki target untuk menurunkan AKI menjadi 102/100 ribu kelahiran hidup. Salah satu upaya untuk mewujudkannya adalah menggratiskan biaya kelahiran melalui program Jaminan Persalian (Jampersal).

(up/ir)