Senin, 21 Okt 2013 10:03 WIB

ASI Tidak Maksimal Bisa Berisiko Anak Terkena Gangguan Kesehatan Mental?

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Meski sudah banyak ibu yang sadar akan pentingnya ASI ekskluisf, masih banyak ibu yang berpikir ASI sudah cukup diberikan ketika Anak sudah bisa makan atau sekitar usia satu tahun. Alasannya pun beragam, mulai dari sibuk kerja sampai sudah merasa lelah dengan pekerjaan rumah yang menumpuk. Padahal jika tidak diberikan ASI secara maksimal, anak kelak dapat tumbuh dengan masalah kesehatan mental.

"Tidak memberikan ASI memang tampaknya lebih mudah, tapi perlu diketahui. Semakin lama diberi ASI, maka semakin berkurang masalah mental health ini. Dan masalah mental health ini tidak hanya satu dua tapi banyak. Misalnya saja gangguan perhatian atau austisme, ini bisa terjadi kalau pemberian ASI-nya tidak lama atau mungkin satu tahun atau bahkan kurang dari satu tahun sudah dicampur formula dan lepas ASI. Selain itu juga dia bisa melakukan kekerasan, ada pengaruh tingkah laku agresif. Akhirnya, smp atau sma sudah tawuran, smp stres lalu bunuh diri dan mudah sekali marah," ujar dr Utami Roesli,SpA, IBCLC, FABM.

dr Utami mengatakan bahwa dengan diberikannya ASI dalam waktu yang lama kepada anak, maka anak akan memiliki hubungan yang kuat terhadap ibu, dan demikian juga sebaliknya. Kelak ibu akan lebih paham segala celahnya dalam menghadapi anak. Tidak hanya memberikan ASI yang lama, proses IMD pun harus berjalan selama 1 jam dan tidak boleh kurang. Proses tersebut dapat dilakukan ketika ibu dan anak sudah dalam kondisi stabil.

"IMD itu harus dilakukan selama satu jam dan tidak boleh kurang. Kalau 30 menit belum keluar atau susternya sudah minta bayinya, jangan mau. Itu hak Anda untuk melakukan IMD, dan harus satu jam," paparnya.

Tidak hanya berpengaruh pada kesehatan mental pada anak, ibu yang tidak menyusui dengan benar akan meningkatkan perilaku kekerasan pada anak yang pastinya akan berpengaruh pada mental anak yang kelak akan melakukan hal yang sama pada lingkungan pergaulannya dan bahkan pada anaknya kelak.
Hal tersebut disampaikan pada acara AIMI Breastfeeding Fair 2013 di West Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Senin (21/10/2013).

Pada kesempatan yang sama ia juga mengatakan bahwa menurut 12 penelitian yang telah dilakukan, DHA dan AA pada kandungan susu anak terbukti tidak menambah kepandaian pada anak. Itulah mengapa dr Utami lebih menyarankan anak untuk terus diberikan ASI.

"ASI itu kan selain membawa anti bakteri, anti viral, juga membawa DNA dan RNA dari dalam tubuh. ASI itu darah seperti darah yang berwarna putih. Jadi akan lebih baik jika anak minum susu dari ibunya. Ya kalau sampai SD mau beri ASI-pun juga masih bisa, bahkan bagus sekali, tidak apa-apa. Bisa dengan diperah susunya taruh dalam gelas. Diperah lalu disimpan dalam freezer kan bisa," tuturnya.

(vta/vta)