Kamis, 05 Des 2013 07:37 WIB

Don't Worry to be a Mommy!

Kisah Perjuangan dr Meta Melewati Masa Kehamilan Anak Pertamanya

- detikHealth
dr Meta Hanindita (Foto: metahanindita.com) dr Meta Hanindita (Foto: metahanindita.com)
Jakarta - Tidak mengalami morning sickness (mual dan muntah di pagi hari) saat sedang mengandung pasti menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi para wanita. Itulah yang awalnya dialami dr Meta Hanindita di sepuluh minggu awal kehamilannya.

dr Meta tidak mengalami morning sickness, ngidam, atau hal-hal yang sering dialami ibu hamil lainnya. Tapi ketika usia kandungannya sebelas minggu, dr Meta mulai sering muntah di pagi hari dan sensitif dengan bau-bauan seperti sabun, sampo, sampah, pembersih lantai, dan sesuatu yang berbau.

Akibat kondisi ini, dr Meta pun harus diinfus karena ia mengalami hyperemsis gravidarium (mual dan muntah berlebihan dalam kehamilan sampai menyebabkan dehidrasi). Alhasil, bobotnya pun turun empat kg. Saat praktik, tak jarang wanita kelahiran Bandung ini ikut muntah ketika ada pasien anak-anaknya yang muntah dan diinfus.

"Setelah menginfus pasien, gantian saya yang diinfus. Bahkan pernah saat saya mau menyuntik pasien, justru saya yang langsung tidak sadarkan diri. Oleh karena itu saya pun mengambil cuti selama satu bulan," tutur dr Meta.

Tapi setelah itu kondisinya justru makin menjadi dengan disertai sesak napas. Setelah melakukan pemeriksaan echocardiography ditemukan kelainan jantung hormonal akibat kehamilan yaitu kelainan katup jantung mitral prolaps (kondisi katup mitral pada jantung tidak berfungsi) dan mitral regurgitasi (terjadi kebocoran aliran darah pada jantung melalui katup mitral) padahal sebelumnya kondisi jantung dr Meta baik-baik saja.

"Untuk menyelamatkan kandungan saya, saya harus full bedrest hingga makan pun kadang harus disuapi dan itu juga di dalam kamar. Saya juga mandi ala kadarnya dan tidak menggunakan sabun atau sampo, bisa dibayangkan bagaimana wajah saya saat itu," kata dr Meta dalam bukunya yang berjudul 'Don't Worry to be a Mommy!' seperti dikutip detikHealth, Rabu (4/12/2013).

Setelah bedrest selama enam bulan, kondisi kandungan wanita lulusan FK UNAIR ini pun normal. Namun, di minggu ke-28, terlihat bahwa bayinya sungsang. Berbagai cara pun dilakukan untuk mengembalikan posisi bayi, misalnya pemutaran bayi dari luar, tapi hasilnya nihil. Oleh dokter, kehamilan dr Meta pun harus diterminasi (bayi dilahirkan meskipun belum waktunya).

"Tapi saya tawar ke dokter untuk menunda operasi, makanya saya harus full bedrest, banyak minum air putih, dan harus terus miring ke kiri. Tapi, selama bedrest bobot saya naik 25 kg, makin sering muntah, merasa pusing, dan setiap muntah mata mengalami pendarahan dan rabun," terang dr Meta.

Tak hanya itu, tekanan darahnya juga melonjak tinggi hampir dua kali lipat, ia pun tidak bisa melakukan beraktivitas misalnya saja nonton tv, membaca, bahkan browsing internet. Saat usia kandungannya masuk di minggu ke-35, hasil USG menunjukkan bahwa air ketuban sudah pecah dan melewati batas. Kondisi bayi juga terlilit tali pusat. Maka mau tak mau, dr Meta harus menjalani operasi.

Lewat perjuangan yang cukup sulit, tanggal 24 Maret 2011, akhirnya ia berhasil melahirkan bayi perempuan dengan berat 2,5 kg yang diberi nama Arshiya Nayara Avanisha Nugroho atau yang akrab disapa Naya. Sayangnya, si kecil Naya harus bolak-balik diopname untuk menjalani fototerapi karena kuning akibat bilirubinnya yang naik turun.

Diagnosa dokter mulai dari kelainan hormon thyroid, kuning karena zat dalam ASI (breastmilk jaundice), kuning karen akurangnya konsumsi ASI (breastfeeding jaundice), radang di liver yang terjadi pada bayi yang baru lahir, sampai kelainan langka yang mempengaruhi metabolisme bilirubin.

Setelah dua bulan menjalani fototerapi, kondisi Naya sudah membaik. Kini, ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu. dr Meta tidak pernah menyangka bahwa kehamilannya bisa seberat itu tapi ia percaya bahwa sesuatu terjadi karena ada sebabnya.

"Selalu ada hikmah yang bisa diambil. Saya jadi jauh lebih menghormati ibu dan sangat mengerti kenapa ada istilah surga di bawah telapak kaki ibu," kata dr Meta.




(vta/vta)
News Feed