Rabu, 02 Apr 2014 19:33 WIB

Di Rumah Ini, Ibu-ibu yang Anaknya yang Kena Rubella Bisa Curhat

- detikHealth
Grace (Foto: Lila/detikHealth) Grace (Foto: Lila/detikHealth)
Jakarta - Awalnya bingung harus curhat ke mana ketika putri kesayangannya terdiagnosis rubella, Grace tergerak membuat sebuah komunitas untuk menampung segala uneg-uneg para ibu dengan anak yang menderita penyakit yang sama.

Komunitas yang 'didirikan' Grace pada tanggal 2 Oktober 2013 itu diberi nama Rumah Ramah Rubella. Hingga kini kendati komunitas tersebut baru eksis di dunia maya, namun anggotanya sudah mencapai 800-an orang dan tersebar di penjuru Nusantara, bahkan hingga ke Papua.

Menurut Grace, banyak orang tua yang tak tahu tentang infeksi TORCH, khususnya rubella atau campak jerman sehingga ketika anak mereka tertular, mereka tak tahu harus berbuat apa. Termasuk dirinya.

Wanita berusia 24 tahun itu sendiri baru tahu bila putrinya, Aubrey Nayim Kayacinta atau akrab dipanggil Ubii ketika usia si kecil memasuki lima bulan.

"Kok Ubii nggak aktif, kok kaku, kok nangis terus, kok beda dengan anak-anak lain. Jadi aku tahunya telat. Setelah tahu kena rubella, aku bingung curhat ke siapa, jadi dari situ aku punya ide untuk bikin tempat curhat untuk teman-teman yang mengalami kasus yang sama dengan aku," kisah Grace saat ditemui detikHealth usai Seminar Sehari 'Yuk Kenali Ciri-ciri Gangguan TORCH pada Anak' di RS Akademik UGM Yogyakarta dan ditulis Rabu (2/4/2014).

Selain menampung curhat, di 'rumah maya' tersebut juga ditampung berbagai pertanyaan dan materi tentang penanganan anak dengan rubella, baik dari seminar maupun terapis dan dokter yang menangani pasien anak dengan rubella.

"Ubii termasuk beruntung karena bisa fisioterapi. Banyak lo anggota Rumah Ramah Rubella yang rumahnya di Jayapura, terutama di daerah2 yang gak di Jawa itu kan fasilitas terapi mereka gak selengkap di Jawa, jadi seperti Ubii yang bisa fisioterapi yuk kita upload aja biar mereka yang gak nemu terapis itu bisa belajar dari video," terang wanita bernama lengkap Grace Melia Kristanto tersebut.

Grace menambahkan kegiatan berbagi video tentang fisioterapi ini dirasa perlu agar orang tua dapat memberikan terapi sendiri bila anaknya terkena rubella. " Orang tua itu kan terapis utama anak dan 24 jam bersama anak. Selain untuk menghindari kadang ada anak yang moody dan butuh waktu lama untuk bisa akrab dengan terapisnya," tuturnya.

Anggota komunitas Rumah Ramah Rubella kerap mengadakan gathering, dan bila ada sponsor mereka akan menggelar kampanye, bazar atau seminar untuk meningkatkan kesadaran dan mengedukasi masyarakat tentang penyakit yang bisa dibilang bukan campak biasa tersebut.

"Sejauh ini belum ada hambatan berarti (dalam pengelolaan komunitas). Paling kami harus lebih mandiri dalam mencari dana karena donatur biasanya enggan untuk menyumbang dana ke yayasan yang ada bentuknya dan ada akta notaris. Selain itu pengurus kita kan ada yang ibu rumah tangga ada yang bekerja jadi kadang susah menyesuaikan waktu untuk berkumpul, apalagi kalau mau menggelar event seperti ini," ungkap alumni Sastra Inggris 2007 Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tersebut.

Tertarik dengan kegiatan di Rumah Ramah Rubella? Berbagai kegiatan dan sharing wawasan terkait infeksi TORCH, terutama rubella, berikut terapi apa saja yang didapatkan anak-anak penderita rubella bisa dilihat di situs Facebook dan YouTube Rumah Ramah Rubella.

"Mei nanti aku juga akan menerbitkan buku pertamaku tentang surat-surat buat Ubii sebagai hadiah ulang tahun. Rencananya 10 persen royaltinya akan aku berikan ke Rumah Ramah Rubella," imbuh Grace.

(lil/vta)