Minggu, 19 Jul 2015 12:25 WIB

Lewat Angpau Lebaran, si Kecil Juga Bisa Belajar Mengelola Keuangan Lho

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Di hari lebaran, anak-anak umumnya mendapat angpau. Tak jarang, uang yang terkumpul digunakan anak untuk membeli barang-barang yang ia inginkan. Ketika anak ingin membelanjakan uang lebarannya, haruskah orang tua menuruti kemauan anak?

Menurut psikolog anak dan remaja Alzena Masykouri M.Psi, membelanjakan angpau lebaran tergantung bagaimana kesepakatan anak dan orang tua. Wanita yang akrab disapa Zena ini mengatakan sebenarnya angpau bisa menjadi sarana belajar mengelola keuangan bagi anak usia sekolah.

"Angpau, sama dengan hadiah dan uang saku, hukumnya adalah milik dan hak anak. Jadi, gunakan kesempatan ini untuk melatih anak mengelola keuangannya," kata Zena dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Minggu (19/7/2015).

Orang tua, lanjut Zena bisa mengatur kesepakatan dengan anak bagaimana proporsi BBM alias Belanja, Berbagi, Menabung. Untuk anak yang lebih kecil, orang tua boleh membantu mengelola keuangan, karena bisa saja angpau yang diterima jumlahnya lumayan besar.

Misalnya lagi, anak bisa berlatih menunda keinginan dan merencanakan mainan apa saja yang ingin ia beli. Dalam mengelola angpau yang diterima, poin utama bagi anak adalah ia belajar mengenai nilai uang dan konsep bahwa uang bisa habis.

"Sesuaikan 'pelajaran' yang diberikan pada anak mengenai uang dengan usianya. Orangtua dapat mencari informasi tentang cara mengelola uang bagi anak," imbuh wanita yang juga pengelola sekolah Bestariku, Bintaro ini.

Baca juga: Ini yang Harus Diperhatikan Saat Beri Anak 'Salam Tempel' di Hari Lebaran

Berbicara soal lebaran, anak juga kerap minat dibelikan baju baru, atau angpau yang terkumpul ingin dibelikan baju pilihannya sendiri. Nah, ketika orang tua hendak menuruti keinginan anak membeli baju baru, Zena mengingatkan hal yang perlu ditekankan pada anak adalah manejemen lemari, masuk satu pakaian (karena beli baru), maka harus ada satu pakaian yang keluar untuk disumbangkan.

Apalagi, di momen lebaran seperti saat ini kebiasaan membeli baju baru juga kadang menjadi tradisi keluarga. Untuk itu, menurutnya boleh saja membuat tradisi, asal tidak memaksakan. Seandainya ada kondisi khusus sehingga tradisi tidak dapat dilaksanakan, maka orangtua wajib memberi penjelasan pada anak dan mendiskusikan perasaan serta solusinya.

"Mungkin saja ada peer pressure mengenai baju baru lebaran. Saatnya orangtua berpikir kreatif untuk menyiasati kondisi, misalnya merekondisi pakaian lama menjadi pakaian baru yang menarik. Oh ya, anak boleh saja kecewa sebagai salah satu emosi negatif yang harus dikenali dan dirasakan," lanjut pemilik akun twitter @bundaalzena ini.

Ketika anak berusaha mengekspresikan perasaannya, menurut Zena yang paling penting dilakukan orangtua adalah membantu anak untuk mengelola rasa kecewa atau sedih sehingga ia dapat merasa nyaman kembali. Sebab, emosi negatif tetap harus dirasakan, bukan dihindari atau justru dihentikan.

Baca juga: Trik Agar Anak Tak Berlebihan Makan Kue Manis Saat Lebaran


(rdn/up)
News Feed