Minggu, 09 Agu 2015 09:05 WIB

Pekan ASI Sedunia

Wahana Visi: Masih Banyak Institusi Kesehatan yang Tidak Pro ASI

Sapta Agung Pratama, - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Menjalankan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) seusai melahirkan merupakan pengalaman berharga dan memiliki arti tersendiri bagi seorang ibu. Sayangnya, belum semua institusi kesehatan memiliki sikap pro terhadap pemberian ASI (Air Susu Ibu) secara eksklusif.

Agni Pratistha, Putri Indonesia 2007, pernah memiliki pengalaman tak menyenangkan saat proses kelahiran anak pertamanya. Bahkan ia harus pindah rumah sakit sebab ia terkejut dan merasa tidak nyaman dengan perlakuan para tenaga medis yang tidak pro terhadap pemberian ASI eksklusif.

"Saya sendiri yang memutuskan untuk pindah rumah sakit. Karena ternyata setelah melahirkan, saya tidak cocok dengan dokter anaknya, sama perawat-perawatnya juga, " ujar Agni saat diwawancarai detikHealth pada konferensi pers Aksi ASI yang diselenggarakan Wahana Visi Indonesia, seperti ditulis Minggu (9/8/2015) di Gandaria City, Jakarta.

Agni juga mengisahkan salah satu kejadian di rumah sakit tersebut, yaitu ketika ia ingin melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) namun ditolak oleh seorang perawat dengan alasan hari sudah larut malam. Kejadian ini lantas membuat kepercayaan dirinya sebagai seorang ibu menurun. Apalagi beberapa jam pasca persalinan Agni belum juga menghasilkan ASI.

"Perawatnya datang ke arah aku, terus dia menyentuh payudara aku terus dia bilang, 'huh, belum ada ASI-nya' dengan mimik muka yang malah makin bikin stres," ujar Agni.

Baca juga: Oleh-oleh ASI Perah untuk si Kecil: Hasil Pumping di Mobil dan Pesawat

Setelah pindah rumah sakit, Agni akhirnya merasa lebih nyaman karena tenaga medis di rumah sakit kali ini mampu memberi dukungan agar Agni terus memberikan ASI eksklusif pada anaknya.

dr Candra Wijaya, Health Team Coordinator Wahana Visi Indonesia, juga mebenarkan bahwa masih sedikit rumah sakit dan institusi kesehatan lainnya yang memiliki kesadaran terhadap pemberian ASI eksklusif, meskipun sudah ada peraturan mengenai pemberian ASI. Menurutnya, malah ada beberapa rumah sakit dan dokter anak yang berinisiasi memberikan susu formula sejak awal pada bayi. Bahkan jika menolak memberikan susu formula pada anaknya, si ibu diminta untuk menandatangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa rumah sakit tidak bertanggung jawab jika terjadi masalah medis karena bayi hanya diberikan ASI.

"Sosialisasinya belum menyeluruh. Peraturannya sudah ada tapi sosialisasi ke institusi-institusi kesehatan itu memang jadi PR bersama. Jangankan di daerah pelosok, di Jakarta saja masih banyak yang belum tahu," ujarnya saat ditemui di tempat yang sama.

Dengan kondisi tersebut, dr Candra memberi beberapa tips kepada ibu-ibu yang ingin melakukan proses persalinan agar lebih selektif dalam menggunakan jasa rumah sakit atau klinik. Yaitu, dengan cara aktif mencari informasi mengenai pelayanan bersalin di rumah sakit sejak masih hamil.

"Atau bisa juga dengan tanya sama ibu-ibu atau teman-teman yang sudah pernah melahirkan di beberapa rumah sakit. Tanya juga mengenai apakah rumah sakit tersebut pro terhadap pemberian ASI eksklusif," tambahnya.

Selain itu, sebelum melakukan persalinan sebaiknya komunikasikan kepada tenaga medisnya. Tanyakan pada dokter yang akan membantu proses persalinan, apakah dia bisa membantu proses IMD.

Namun, jika memang sudah menggunakan jasa salah satu rumah sakit dan baru saja diketahui bahwa rumah sakit tersebut tidak pro terhadap pemberian ASI eksklusif, artinya si ibu dan keluarga harus ngotot untuk tetap memberi ASI eksklusif pada anak.

"Itu yang harus kita edukasi ke masyarakat. Kalaupun disuruh harus tanda tangan Informed Consent, tanda tangan saja. Jangan takut!" tambah dr Candra.

Dalam UU Kesehatan no. 36 tahun 2009 pasal 200, negara akan menghukum siapapun yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif dengan hukuman kurungan penjara selama satu tahun dan denda Rp 100 juta rupiah.

Baca juga: Menyusui Bayi dengan Tali Lidah Pendek, Ria Sempat Dibantu Donor ASI (vit/up)