Rabu, 20 Jan 2016 16:02 WIB

Afrika dan Asia Selatan Jadi Penyumbang Angka Kematian Bayi Tertinggi

Firdaus Anwar - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Dalam jurnal The Lancet dilaporkan bahwa pada tahun 2015 lalu setidaknya ada 2,6 juta bayi yang lahir mati (stillbirth). Hampir dua per tiga dari angka tersebut berasal dari negara-negara di Afrika dan sebetulnya bisa ditekan bila saja akses layanan kesehatannya baik.

Bayi disebut lahir mati bila ia meninggal dalam kandungan yang telah berusia 20 minggu kehamilan sampai pada selepas lahir. Setengah dari kasus lahir mati yang dilaporkan ini (1,3 juta) terjadi pada saat persalinan karena komplikasi kondisi yang bisa diobati seperti malaria atau sipilis.

Banyak orang berpikir bahwa bayi lahir mati karena suatu kecacatan sehingga tak bisa ditolong dan terjadi karena takdir. Padahal nyatanya menurut peneliti kejadian lahir mati karena cacat ini hanya terjadi pada 7,8 persen kasus.

Baca juga: Waspadai! Bayi yang Lahir Tidak Bernyawa

Tiga negara dengan angka lahir mati tertinggi di antaranya Pakistan, diikuti oleh Nigeria, dan kemudian Chad. Selebihnya negara-negara berpenghasilan rendah-menengah di Asia Selatan juga berkontribusi terhadap tingginya angka lahir mati.

"Melihat progres yang sekarang, akan butuh 160 tahun lagi sebelum wanita di Afrika memiliki kesempatan yang sama bayinya lahir selamat seperti wanita di negara-negara berpenghasilan tinggi," kata peneliti dalam jurnal The Lancet dan dikutip dari BBC, Rabu (20/1/2016).

Studi beragumentasi untuk meningkatkan pelayanan antenatal di daerah-daerah dengan angka lahir mati yang masih tinggi. Studi menyebut negara Rwanda, Afrika, adalah contoh daerah yang meski dengan sumber daya terbatas namun berhasil menekan angka lahir mati.

Baca juga: 1 dari 117 Bayi Tewas dalam Kandungan Akibat Asap Rokok (fds/vit)
News Feed
Layar Pemilu Terperc
×
Layar Pemilu Terpercaya
Layar Pemilu Terpercaya Selengkapnya