Diungkapkan Direktur Penyakit Menular Langisng Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan, DR Wiendra Waworuntu, MKes, data Litbangkes menunjukkan angka kejadian diare pada anak di tahun 2013 mencapai 31,4 persen. Diare juga menjadi penyebab kematian neonatal dan anak usia 1-4 tahun.
Sementara, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan konsumsi oralit dan zinc di Indoneaia hanya 33,3 dan 16,9 persen. Sementara penggunaan antibiotik yang tidak rasional di tahun 2012 saja sudah cukup tinggi yakni 81,8 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat diare anak kan kehilangan air dan elektrolit, lalu zinc. Kalau kurang air dia dehidrasi. Kalau kekurangan zinc absorsi nutrisi kurang dan menurunkan imunitasnya," kata Windra di Balai Kartini, Jl Jend Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (22/3/2016).
Nah, untuk intervensinya bisa dengan pemberian oralit untuk mencegah dehidrasi dan zinc untuk perbaikan mukosa usus. Untuk oralit, lanjut Wiendra, saat ini disarankan menggunakan oralit rendah osmolaritas karena pengurangan garam dan gula dapat memperpendek durasi diare.
Jika oralit osmolaritas rendah dalam bentuk kemasan bubuk tidak tersedia di rumah, anak juga bisa diberi kuah sayur, air buah, air teh, atau air tajin misalnya. Wiendra mengatakan zinc merupakan zat gizi mikro penting untuk mengurangi kekambuhan diare sampai 20 persen, mendukung pemulihan anak pasca diare, serta mengurangi durasi diare, serta menurunkan keparahan diare.
"Sehingga saat anak diare sesegera mungkin berikan zinc juga oralit ya. Penatalaksanaan diare dengan zinc dan oralit juga bisa didapat melalui program layanan rehidrasi oral aktif di Puskesmas," kata Wiendra.
Baca juga: Jangan Buang Sampah di Sungai, Ini Risiko Kesehatan yang Mengintai
(rdn/vit)











































