Pilek di Awal Kehidupan Anak Disebut Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes

ADVERTISEMENT

Pilek di Awal Kehidupan Anak Disebut Bisa Tingkatkan Risiko Diabetes

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Sabtu, 07 Mei 2016 12:16 WIB
Foto: thinkstock
Jakarta - Infeksi saluran pernapasan yang hadir melalui common cold atau pilek atau selesma, flu, tonsilitis, bronkhitis dan pneumonia yang dialamo di enam bulan pertama kehidupan anak, disebut bisa meningkatkan risiko diabetes tipe 1 (T1D). Mengapa bisa demikian?

Menurut penelitian, risiko T1D meningkat pada anak berusia nol hingga 2,9 bulan atau antara tiga hingga 5,9 bulan yang mengalami infeksi saluran pernapasan. Risiko lebih besar ketimbang anak yang tidak memiliki infeksi saluran pernapasan di usia tersebut.

"Temuan kami menunjukkan bahwa virus gangguan saluran pernapasan selama 6 bulan pertama kehidupan secara signifikan meningkatkan risiko terkena diabetes jenis 1," kata salah satu peneliti, Andreas Beyerlein, dari Helmholtz Zentrum Munchen di Jerman.

Baca juga: Flu Bisa Memicu Stroke, Pakar Kesehatan Anak Anjurkan Vaksinasi

Dikutip dari Indian Express, Sabtu (7/5/2016), penelitian tersebut dilakukan dengan cara mempelajari catatan medis dari 295.420 bayi. Sekitar 720 bayi di antaranya didiagnosis T1D pada usia rata-rata 8,5 tahun.

Setidaknya satu infeksi dilaporkan selama dua tahun pertama kehidupan 93 persen anak-anak, dan di 97 persen anak-anak dengan T1D. Sebagian besar anak-anak mengalami infeksi virus dan pernapasan.
Risiko T1D juga ditemukan meningkat di antara anak-anak yang mengalami infeksi virus sejak lahir hingga berusia 5,9 bulan. Studi ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA.

Bayi rentan mengalami infeksi virus dan pernapasan karena sistem kekebalan tubuhnya belum sekuat orang dewasa.

Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan Dr Heather Fullerton dari University of California, San Fransisco, flu pada anak dikaitkan dengan risiko stroke. Infeksi sederhana disebut dapat memicu stroke iskemik atau stroke yang diakibatkan penyumbatan pembuluh darah pada anak-anak.

Peneliti belum tahu mengapa infeksi sederhana bisa memicu stroke. Tapi ada kemungkinan infeksi itu mengakibatkan peradangan di seluruh tubuh yang kemudian berkontribusi terhadap stroke atau setidaknya memicu penyumbatan pembuluh darah.

Ini artinya stroke yang dipicu flu pada anak-anak kemungkinan besar hanya akan dialami oleh mereka yang memiliki riwayat stroke. Ditemukan fakta pula,18 persen anak yang terkena stroke setelah sakit flu itu tidak melakukan vaksinasi secara rutin. Bahkan peneliti berani menyimpulkan, mereka yang tidak divaksin secara rutin akan berisiko tujuh kali lebih besar mengalami stroke.

Meski begitu, pakar saraf dan stroke pada anak ini mengatakan stroke pada anak-anak sangatlah langka, karena hanya terjadi pada 2-13 dari 100.000 anak tiap tahunnya. Sebagian besar dari mereka juga sudah dihinggapi gangguan kesehatan seperti penyakit jantung bawaan, anemia sel sabit yang bersifat turunan serta penyakit yang menyebabkan penggumpalan darah.

Baca juga: Anak Diimunisasi Saat sedang Batuk atau Pilek, Boleh Atau Tidak? (vit/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT