Bukan Ketempelan Jin, Anak Nangis Kejer Mungkin karena Tantrum

ADVERTISEMENT

Memahami Tantrum si Kecil

Bukan Ketempelan Jin, Anak Nangis Kejer Mungkin karena Tantrum

Martha Heriniazwi Dianthi - detikHealth
Senin, 30 Mei 2016 12:13 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Rista, salah seorang pembaca detikHealth, mengeluhkan anaknya yang belum genap berusia dua tahun beberapa kali sering menangis keras sambil berguling-guling di lantai. Khawatir si kecil ketempelan jin, telapak kaki anaknya pun dipukul-pukul. Bukannya diam, tangis si kecil malah semakin keras.

"Saya bingung ini anak kenapa. Digendong salah, dibiarkan juga salah. Nangisnya kencang sekali sampai guling-guling dan narik-narik badannya. Saya pukul-pukul telapak kakinya, katanya kalau ketempelan jin bisa diatasi dengan memukul telapak kaki anak," tutur Rista.

Setelah beberapa kali si kecil nangis kejer dan bikin orang tuanya merasa serba salah, Rista menyadari anaknya bertingkah demikian jika kecewa keinginannya tidak dituruti. Bukan ketempelan jin, ini adalah tantrum, ledakan emosi yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak dapat dikendalikan anak.

Dijelaskan psikolog keluarga Anna Surti Ariani, MPsi tantrum merupakan hal normal pada anak usia 1,5 hingga empat tahun. Pada saat bayi, di mana kemampuan yang dimiliki belum banyak, anak hanya bisa melihat dunia dari tempat tidur dan gendongan saja.

Baca juga: Mengatasi Anak yang Ngambek dan Teriak Saat Keinginannya Tak Dituruti

Namun ketika usianya sudah lebih dari satu tahun, umumnya anak sudah bisa berjalan dan melihat dunia dengan cara yang lain. Akan tetapi kemampuan anak masih terbatas, sehingga hal itu bisa memicu ledakan emosi.

"Ciri-ciri anak yang mengalami tantrum biasanya sering nangis keras, memukul dirinya, guling-guling di lantai atau memaksa," ujar perempuan yang akrab disapa Nina ini.

Dihubungi secara terpisah, psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi menjelaskan tantrum merupakan respons anak pada sesuatu yang dia hadapi. Umumnya anak hanya akan menangis keras, tapi tidak menutup kemungkinan bisa sampai berguling-guling di lantai.

"Yang berbahaya itu jika sudah sampai membahayakan diri sendiri seperti jedot-jedotin kepala ke dinding," ucap Ratih.

Reaksi seperti membenturkan badan dan kepala ke tembok ataupun menarik-narik badannya sebenarnya tidak disadari oleh anak. Ini merupakan ekspresi untuk menyatakan kekesalannya yang luar biasa.

Baca juga: Anak Suka Memukuli Kepala Sendiri Bila Sedang Marah


(vit/ajg)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT