Kamis, 04 Agu 2016 14:31 WIB

Pekan Menyusui Sedunia

Skin to Skin Contact Ibu dan Bayi Penting untuk Keberhasilan Proses Menyusui

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Skin to skin contact atau kontak kulit ke kulit tak sekadar bermanfaat mendekatkan ikatan (bonding) antara ibu dan bayinya. Sebab, kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi juga berkontribusi pada keberhasilan proses menyusui.

Setelah bayi lahir, kontak kulit ke kulit pertama kali bisa dilakukan melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Proses IMD diawali dengan merayapnya bayi ke dada ibu setelah ia mencium bau puting payudara ibu. Proses merayap ini disebut juga dengan breast crawl. Proses ini memiliki manfaat yang secara langsung atau tidak langsung membantu bayi bergerak dan memfasilitasi kehidupan di luar rahim.

"Dari segi biokimia, kontak kulit ke kulit secara dini juga dapat meningkatkan hormon oksitosin dan membantu kelancaran proses laktasi. Proses ini tentu dapat tercapai lebih mudah bila dilakukan perawatan gabung ibu dan bayi," kata dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA, seperti dikutip dari buku 'Breastfeeding Sick Babies' yang disusun oleh Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa dr Tiwi ini mengungkapkan bahwa kontak kulit ke kulit idealnya dimulai sesaat setelah bayi lahir dengan meletakannya di dada ibu. Saat itu, bayi dalam keadaan telanjang dan hanya diberi selimut di punggung. Lantas, apakah bayi tidak akan kedinginan?

dr Tiwi mengatakan, melalui teknik ini, ibu bisa mempertahankan suhu tubuh bayi layaknya inkubator. Sebab, dada ibu memiliki daya serap panas yang bisa menghangatkan tubuh bayi saat merayap.

"Selain pada fisik, kontak kulit ke kulit juga berpengaruh ke psikologis bayi. Kontak kulit ke kulit terbukti menimbulkan efek menenangkan pada bayi. Selama 90 menit pertama setelah lahir, bayi yang diletakkan di dada ibu nyaris tidak mengangis sama sekali," kata dr Tiwi.

Baca juga: Yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Saat Menyusui

Kondisi tersebut, amat berbeda dibanding ketika bayi ditempatkan di bassinets (buaian) setelah dikeringkan dan dibungkus selimut. Manfaat lain kontak kulit ke kulit salah satunya ditemukan berdasarkan meta analisis 10 penelitian yang dialkukan Nils Bergman dan rekan, demikian disampaikan dr Tiwi.

Bergman dan rekannya menyimpulkan bahwa kontak kulit ke kulit bisa meningkatkan aktivitas menyusui secara signifikan, baik yang dilakukan selama 1-4 bulan, 4-6 bulan, maupun sampai bayi berusia satu tahun. Selain itu, penelitian yang dilakukan Mikiel-Kostyra dan rekan tahun 2002 menunjukkan ada perbedaan signifikan durasi menyusui akibat ada tidaknya kontak kulit ke kulit secara dini.

Mikiel-Kostyra menyebutkan ibu yang melakukan kontak kulit ke kulit akan menyusui secara eksklusif 0,39 lebih lama dan menyusui secara total 1,43 bulan lebih lama dianding ibu di kelompok kontrol. Ditemukan pula makin lama durasi kontak kulit ke kulit, makin lama pula durasi ibu menyusui bayi.

Ibu yang durasi kontak kulit ke kulitnya diperpanjang sampai lebih dari 30 menit bahkan bisa menyusui bayinya 3 bulan lebih lama, dibanding ibu yang tidak melakukan kontak kulit ke kulit sama sekali.

Baca juga: Perhatikan 4 Saran Ini Agar Bisa Memberikan ASI Eksklusif pada si Kecil

(rdn/vit)
News Feed