Jumat, 05 Agu 2016 11:38 WIB

Pekan Menyusui Sedunia

Mulanya ASI Hanya Beberapa Tetes, Ini Perjuangan Meri Menyusui Bayinya

Nurvita Indarini - detikHealth
Ilustrasi menyusui (Foto: thinkstock) Ilustrasi menyusui (Foto: thinkstock)
Jakarta - Menyusui tak sesimpel yang dibayangkan. Ada perjuangan untuk melakukannya. Seperti kisah Meri, pembaca detikHealth, berikut ini. Mulanya sempat down, tapi Meri berusaha keras bisa memberikan ASI pada anaknya.

"Dari saat hamil memang minim banget pengetahuan tentang menyusui. Sampai anak lahir, tetap nggak tahu apa-apa tentang menyusui," ujar Meri mengawali kisah dalam email yang dikirimkan ke detikHealth.

Teman-teman Meri yang datang sebenarnya telah memberikan semangat agar Meri memberikan air susu ibu (ASI) saja pada bayinya yang baru lahir. Namun Meri selalu berpikir ASI-nya sedikit sehingga dia tidak percaya diri bisa memberikan ASI secara penuh pada anaknya.

"Berawal dari pup si anak yang akhirnya terindikasi alergi susu sapi dan harus beli susu yang khusus alergi dengan harga selangit, maka dimulailah pencarian pengetahuan ASI," sambung Meri.

Baca juga: Demi si Buah Hati, Memerah ASI di Tepi Pantai pun Dijalani

Meri mengikuti sejumlah forum dan berkonsultasi ke klinik laktasi di daerah Kemang di Jakarta. Tujuannya adalah agar ASI-nya bisa mengalir lancar sehingga bisa memenuhi kebutuhan bayinya. Belum lagi saat itu si kecil memiliki masalah bingung puting. Juga ada aneka pertanyaan yang membuatnya down.

"ASI-nya ada? ASI-nya keluar? Itu nggak ada isinya kali makanya nangis. Udah nggak apa-apa kasih susu, kasihan nangis, dan seterusnya. Benar-benar nggak percaya diri banget!," kenang Meri.

Untunglah suami dan teman-teman yang dikenalnya di forum selalu meyakinkannya bahwa bayi menangis bukan selalu karena lapar. Dia pun bertekad untuk selalu memompa ASI setiap dua jam sekali. Lagi-lagi ini tidak mudah lho. Sebab awalnya hasil memerah ASI Meri hanya beberapa tetes. Sudah menyediakan waktu cukup lama, yang keluar hanya beberapa tetes.

"Ngumpulin setetes demi setetes, walau cuma basahin pantat botol. Sampai nyari booster ASI, minum jus pare mentah, makan jantung pisang yang nggak jelas rasanya, dan makan-minum seabrek-abrek," tutur Meri.

Tak cuma itu, Meri pun rela mengorbankan waktu tidur malamnya untuk bangun tiga kali demi bisa memerah ASI. "Jam 1, jam 3 dan jam 5 pagi, setiap hari selama cuti kerja. Lalu sempatin lagi buat mompa saat anak selesai nyusu," sambung Meri.

Baca juga: Listrik Padam berjam-jam, Ibu Muda Ini Gotong-gotong ASI ke Rumah Tetangga

Tidak ada perjuangan yang sia-sia, itu benar adanya. Sedikit demi sedikit Meri mulai berhasil mengumpulkan stok ASI. Mulanya dia membeli freezer khusus ASI enam rak untuk menyimpan ASI perah. Karena tidak cukup menampung, Meri pun menggunakan kulkas mertua, kulkas orang tua, bahkan kulkas kakaknya.

"Akhirnya si anakpun bisa full ASI sampai sekarang umurnya 12 bulan. Niatnya ingin sampai si anak bisa 24 bulan," imbuh Meri.

Di usia 12 bulan, anaknya sudah makan lebih banyak. Karena itu, Meri pun sudah mengurangi frekuensi memompa ASI. Meski demikian, dia tetap menyempatkan diri untuk memompa ASI di sela waktu bekerjanya di kantor.

"Stok botol kosong pun makin banyak, tapi stok ASI masih aman sampai sekarang. Semoga bisa terus berjuang demi si buah hati," kata Meri mengakhiri ceritanya. (vit/ajg)