Kamis, 18 Agu 2016 10:35 WIB

Saran Psikolog Agar Anak Tak Jadikan Tantrum Sebagai 'Senjata'

Puti Aini Yasmin - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Tantrum merupakan hal normal pada anak usia 1,5 hingga empat tahun. Namun orang tua harus menyikapi perilaku ini dengan tepat. Jangan sampai anak menjadikan tantrum sebagai 'senjata' agar semua keinginannya terpenuhi.

"Normalnya setiap anak akan mengalami masa tantrum. Memang tantrum akan hilang seiring dengan bertambahnya usia. Namun kebanyakan tantrumnya bisa berlanjut kalau orang tua tidak benar-berar paham apa sih yang harus diperbuat ketika anak sedang tantrum," papar psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, dalam perbincangan dengan detikHealth.

Nah, ciri-ciri anak yang mengalami tantrum biasanya sering menangis keras, memukul dirinya, guling-guling di lantai atau memaksa. Ini merupakan ekspresi untuk menyatakan kekesalannya yang luar biasa.

Ratih mengingatkan orang tua untuk tidak ikut tantrum pada saat anaknya sedang tantrum. Ketimbang ikut-ikutan marah dan berteriak-teriak pada saat anak tantrum, lebih baik orang tua menyingkir sebentar untuk merenungkan sesaat apa penyebab tantrum pada anaknya.

Baca juga: Saat si Kecil Mengamuk, Bagaimana Sebaiknya Orang Tua Bersikap?

Selain itu perlu dipahami juga bahwa bukan saja orang tua yang bisa marah. Anak, bahkan di usia batita atau balita, juga bisa marah. Untuk itu, berikan waktu pada mereka untuk melepaskan marah dan kesalnya, misalnya dengan cara menangis keras. Setelah anak tampak lebih tenang, baru diajak berkomunikasi.

"Biasanya anak tantrum kan karena dia minta sesuatu. Nah, jangan kita penuhi sesuatunya saat kita tahu ia tantrum, karena besok-besok dia bisa menggunakan tantrum sebagai senjata," lanjut Ratih.

Menurut Ratih, sebaiknya orang tua memberikan pengertian bahwa anak boleh menangis tapi ayah dan ibu tidak akan memberikan apa yang diinginkan anak. Dengan demikian anak perlahan-lahan akan memahami bahwa tantrum tidak bisa digunakan sebagai senjata.

Berikan pula pengertian dan ajarkan kebiasaan pada anak untuk berbicara dengan baik pada saat menginginkan sesuatu. Ketika anak sudah berhasil menguasai tantrum, tidak ada salahnya juga jika orang tua memberi pelukan atau ciuman pada anak agar membuat anak merasa disayang dan diperhatikan.

Baca juga: Bukan Ketempelan Jin, Anak Nangis Kejer Mungkin karena Tantrum (vit/ajg)