Rabu, 24 Agu 2016 15:30 WIB

Balita Juga Bisa Trauma Meski Hanya Melihat Tayangan Kekerasan di TV

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Melihat tayangan bertema kekerasan misalnya saja teror bom, adegan saling pukul, atau tawuran pastinya bisa memicu rasa takut tak hanya pada orang dewasa, tapi juga anak-anak. Terlebih bagi balita, trauma pun bisa mereka rasakan meski hanya melihat tayangan kekerasan itu di TV.

Diungkapkan psikolog anak dari TigaGenerasi Saskhya Aulia Prima MPsi, trauma yang dialami anak meski 'hanya' melihat tayangan kekerasan di TV disebut juga dengan secondary trauma. Di mana seseorang seakan-akan merasakan kejadian yang sebenarnya hanya dilihat atau didengar saja.

"Anak cuma tahu orang teriak, sama dengar banyak bunyi-bunyian, itu bisa masuk level secondary trauma. Jadi trauma nggak harus kalau kita jadi saksi mata di tempat kejadian atau mengalaminya sendiri. Trauma bisa terjadi karena kita hanya melihat sesuatu," kata Sakshya ditemui usia Konsulteatime yang diadakan TigaGenerasi dan Adalima di Gastromaquia, Jakarta Selatan, Selasa (23/8/2016).

Baca juga: Hiasi RS dengan Nuansa Kartun Bisa Kurangi Ketakutan Anak Saat Berobat Lho

Apalagi, bagi balita, tayangan yang hanya ia lihat di TV bisa ia anggap sebagai realita. Sebab, dikatakan Saskhya di bawah usia 6 tahun anak masih belum bisa membedakan mana kenyataan dan imajinasi. Maka dari itu, Sakshya menekankan pentingnya pendampingan orang tua ketika anak menyaksikan tayangan di TV.

Pada orang dewasa saja, lanjut Sakshya, setelah menonton film horor, bukan tak mungkin akan timbul rasa takut, bahkan sampai tidak bisa tidur setelahnya. Nah, apalagi pada balita yang cenderung masih belum bisa membedakan mana realita dan imajinasi.

Saskhya mencontohan tayangan lain misalnya film superhero yang ditunjukkan bisa melompat dari satu tembok ke tembok lain, pada anak usia di bawah 6 tahun ia bisa melihat itu sebagai hal yang juga dapat dilakukan di kehidupan nyata.

"Untuk anak usia 6 tahun ke bawah apa yang dia lihat itu dicopy langsung ke pikirannya bener-bener seperti yang dia lihat. Tapi kalau anak udah umur 6 tahun ke atas, mereka sudah mulai bisa bedakan mana realita dan bukan, tapi tetap perlu pendampingan," tutur Sakshya.

Baca juga: Anak Tiba-tiba Ketakutan? Waspada, Bisa Jadi Akan Mengalami Kejang

(rdn/vit)
News Feed