Rabu, 07 Sep 2016 11:01 WIB

Trik Agar Ibu Tak Terlalu Galau Saat Kembali Bekerja Setelah Melahirkan

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Waktu cuti melahirkan sudah habis dan saatnya ibu kembali bekerja. Kondisi ini bukan hal yang mudah dilalui ibu. Terlebih, jika si bayi adalah buah hati pertamanya.

Menanggapi hal ini, psikolog anak dan keluarga dari Lembaga Psikologi Terapan UI, Anna Surti Ariani, SPsi, MSi, Psikolog mengatakan sedih atau tak tega meninggalkan anak setelah cuti melahirkan wajar terjadi. Hal ini pun bisa terasa lebih berat pada ibu yang sebetulnya tidak terlalu ingin bekerja dan keputusan bekerja dibuat karena adanya tuntutan.

Menurut wanita yang akrab disapa Nina tersebut, tuntutan ibu untuk bekerja umumnya memang berupa alasan finansial. Tapi, bukan tak mungkin ada tuntutan dari pihak lain misalnya orang tua yang berpikir jika istri tidak bekerja dan suatu hari ada sesuatu terjadi pada suami, maka istri tidak berdaya.

"Ketika tuntutan bekerja itu dari luar si ibu, itu lebih rentan membuat ibu stres atau sulit berpisah dengan anak. Beda jika memang dia menyukai pekerjaannya. Memang stres juga ibunya pas pisah sama anak apalagi setelah 3 bulan bareng. Tapi dengan dia menikmati pekerjaannya cepat berkuranglah stresnya," tutur Nina dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

Lantas, bagaimana caranya agar ibu bisa tegar? Menurut Nina, pada dasarnya hadapi saja apa yang terjadi. Justru, tak dianjurkan para ibu berusaha sok perkasa. Sebaliknya, baiknya terimalah kalau ibu memang kerap menangis, sedih, dan tiba-tiba bisa galau seperti tidak mau bekerja lagi.

Baca juga: Kebijakan Cuti Melahirkan di Berbagai Negara yang Dianggap Bersahabat

Ibu dua anak ini mengatakan, memang itulah transisi yang dialami sebagai ibu. Semakin ibu menolak dan menghindar dari apa yang dialami, justru ia lebih rentan merasakan kegalauan itu lebih lama. Wanita yang juga praktik di Klinik TigaGenerasi ini mengatakan kegalauan yang dialami ibu tergantung dari seberapa dia menikmati pekerjaannya dan bagaimana support system di lingkungan sekitarnya. Jika support system-nya baik, ibu bisa jauh lebih mampu menghadapi kegalauannya.

"Kalau misal baru masuk tuntutan kerjanya besar, terus dia stres dan nggak bisa merah ASI, pasti rasanya lebih berat. Lalu dukungan dari temannya. Ketika teman bilang 'Emang gitu sedih rasanya ninggalin anak, tapi kamu bukan ibu yang jelek. Kamu ibu yang baik karena tetap berusaha memenuhi kebutuhan finansial anakmu', itu support banget, akan menghibur sekali. Dibanding dengan teman yang ngomong 'Ya udah sih emang lo kan mesti kerja', itu kejam ibaratnya," kata pemilik akun twitter @AnnaSurtiNina ini.

Ia menekankan, tidak bisa pula seseorang menggeneralisir bahwa semua ibu bisa survive dalam menghadapi kegalauannya. Sebab, ada orang yang kesulitan menghadapi hal ini sehingga dia tidak bisa terlalu dipaksa untuk tegar. Kemudian, tidak menutup kemungkinan juga ada ibu yang tidak kuat menghadapi kegalauannya harus meninggalkan si anak karena bekerja, hingga akhirnya ia memilih berhenti bekerja.

Baca juga: Peneliti Perbolehkan Bayi Dibiarkan Menangis Sampai Tertidur


(rdn/vit)