Selasa, 30 Mei 2017 19:01 WIB

Curhat Ibu yang 'Patah Hati' karena Anaknya Tak Mau Lagi Menyusu

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Emily Holdaway, ibu yang patah hati karena anaknya tak mau lagi menyusu (Foto: Facebook/ Raising Ziggy) Emily Holdaway, ibu yang patah hati karena anaknya tak mau lagi menyusu (Foto: Facebook/ Raising Ziggy)
Jakarta - Wanita bernama Emily Holdaway ini patah hati tapi bukan gara-gara seorang pria, melainkan karena sang bayi tak mau lagi menyusu. Bagaimana kisahnya?

Dalam sebuah foto yang diunggah Emily di halaman Facebook-nya pada 12 Mei lalu, tampak Emily tengah memangku sang anak Ziggy, di kamar mandi tanpa mengenakan pakaian. Saat itu, kata Emily, Ziggy sedang tidak enak badan.

"Wajahnya merah, pipinya hangat. Dia menangis terus. Saya tawari dia menyusu, tapi ditolak. Dia menggeleng dan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Akhirnya kami melakukan skin to skin contact di bawah pancuran shower dan saat itu, saya diam-diam menangis. Saya merasa tidak punya kekuatan," demikian disampaikan Emily.

Selama ini, lanjut Emily, menyusu ampuh menjadi penenang bagi Ziggy. Hanya saja, makin bertambah usia Ziggy, frekuensi menyusunya makin berkurang. Kadang, Emily tak menampik jika dirinya berpikir kapan Ziggy akan berhenti menyusu. Namun, ia tak menyangka Ziggy akan berhenti menyusu di usianya kini yang menginjak 19 bulan.

Saat ini, Emily tengah hamil. Bersamaan dengan itulah Ziggy makin jarang menyusu. Kadang, ia hanya menyusu jika hendak tidur siang. Tak seperti sebelumnya, ketika Ziggy jatuh dan menangis, ia tak lagi meminta menyusu pada ibunya. Ketika Emily menawarkan ASI pada Ziggy, seringkali bocah itu menolaknya.

Baca juga: Hal-hal Seputar Menyapih Anak yang Sering Ditanyakan dan Jawabannya

"Dia kemudian menjauh dari saya dan berlari. Saya tidak pernah berpikir kondisi seperti ini akan terjadi. Saya merasa ditolak, tidak berguna. Ya memang, kini dunia Ziggy sudah berkembang dari sebelumnya. Dulu saya ngobrol dengan ibu lain apa yang akan kita lakukan ketika anak kita tidak menyusu lagi? Mungkin sekarang saya harus mulai memikirkannya," tutur Emily.

Di usia 2 tahun, umumnya memang anak sudah mulai disapih. Hanya saja, dalam proses penyapihan kadang ibulah yang merasa tidak tega melakukan itu. Menanggapi hal ini, psikolog anak dan remaja dari RaQQi - Human Development & Learning Centre, Ratih Zulhaqqi, menyarankan ibu untuk melakukan penyapihan dengan bertahap. Menyiapkan emosi dikatakan Ratih pastinya penting supaya proses penyapihan bisa berjalan dengan lancar.

"Jangan dibawa stres dan malah jadi pikiran, kalau gitu nggak jadi weaning with love (WWL) dong. Memang ada kalanya anak butuh waktu menyesuaikan diri untuk tidak menyusu lagi. Jadi kadang anak menunjukkan kesedihan atau keengganan. Tapi, ini bukan berarti anak nggak mau disapih tapi dia cuma butuh waktu beradaptasi," kata Ratih.

Lantas, bagaimana caranya supaya si ibu bisa lebih 'tega' saat akan menyapih anak? Nah, di sini Ratih menekankan perubahan mind set si ibu.

"Jangan menganggap bahwa apa yang dilakukan ini adalah bentuk kekejaman pada anak. Tapi ini dilakukan supaya anak bisa lebih baik lagi. Kalau ibunya nggak siap terus, nanti anak bisa tidak mengalami perkembangan yang sesuai milestone-nya," tambah wanita berkerudung ini.

Oleh karena itu, menurut Ratih kesiapan orang tua terutama ibu saat menyapih anak memang perlu. Sebab, anak juga akan melihat bagaimana kesiapan orang tuanya. Asalkan konsisten dan tetap memberi pengertian pada anak, WWL bisa dilakukan.

Baca juga: Cara Tepat Menyapih Anak untuk Ibu Bekerja (rdn/up)