Kamis, 13 Nov 2014 17:25 WIB

Hipotiroid Diidap Ibu Hamil, Hati-hati Janin Bisa Kena Batunya

- detikHealth
Jakarta - Penyakit tiroid yang membuat metabolisme tubuh melambat atau hipotiroid seringkali tidak terdiagnosis dan menyebabkan berbagai macam masalah. Hipotiroid akan semakin berbahaya, terutama jika terjadi pada ibu hamil karena akan berpengaruh pada janinnya.

Spesialis endokrinologi anak, dr Erwin P. Soenggoro, SpA(K), dari FKUI, mengatakan penyebab pasti mengapa gangguan kelenjar hipotiroid bisa muncul sampai saat ini masih belum jelas. Tapi salah satu dugaan mengatakan hipotiroid muncul karena faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat.

Pada orang dewasa hipotiroid memiliki gejala rasa lemas yang umum dirasakan. Oleh sebab itu seringkali hipotiroid tidak terdeteksi karena masyarakat seringkali mengira rasa lemas tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Hal tersebut dikatakan oleh dr Erwin sebagai sesuatu yang berbahaya karena efek hipotiroid akan berbeda pada bayi yang dikandung seseorang. Karena metabolisme tubuh yang melambat, tumbuh kembang janin dapat terhambat sehingga berisiko menimbulkan kecacatan.

"Nah takutnya kalau dia tiroid kemudian hamil, anaknya juga yang kena karena tidak terbentuk sempurna. Kalau sudah dewasa kan pertumbuhan sudah berhenti, dia akan merasa lemas dan kehilangan gairah hidup. Jadi beda efeknya," kata dr Erwin saat ditemui pada acara advokasi skrining hipotiroid kongenital (SHK) di Hotel Amaroosa, Bekasi Barat, Kamis (13/11/2014).

dr Erwin menjelaskan saat bayi dalam kandungan ia mendapatkan hormon tiroid dari sang ibu. Jika hormon tiroid yang diperoleh sedikit karena ibu mengalami hipotiroid, metabolisme bayi juga akan ikut terpengaruh menjadi lambat dan pertumbuhannya terganggu.

Oleh sebab itu dr Erwin menyarankan kepada ibu hamil untuk mengikuti tes skrining SHK. Jika diketahui sejak dini maka pengobatan dapat dilakukan sebelum kerusakan terjadi. Hipotiroid pada bayi akan berakibat lebih fatal karena pertumbuhan yang terganggu dibandingkan jika terjadi pada orang dewasa.

"Kalau itu tidak deteksi cepat, otaknya ini yang terkena. Jadi perkembangan otaknya bisa telat. Kalau sudah kena otak tidak bisa sembuh," imbuhnya.

(vit/vit)