Jumat, 20 Jan 2017 15:03 WIB

Kata Dokter Soal Risiko Infeksi dan Bayi Tenggelam pada Water Birth

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Sampai saat ini masih ada pro dan kontra mengenai tingkat keamanan dan kenyamanan dari metode persalinan water birth. Yang sering disebut, metode ini berisiko tinggi membuat bayi infeksi dan bahkan bisa tenggelam.

Menurut Ketua Indonesian Water Birth Association, dr I Nyoman Hariyasa Sanjaya, SpOG(KFM), MARS, kedua hal ini memang paling sering disebut-sebut sebagai 'efek samping' dari water birth. Namun ia menjelaskan bahwa nyatanya tak selalu demikian.

"Lumrah kalau ada yang berpikir seperti ini. Kita berpikirnya kan bernapas pakai paru-paru ya, jadi kalau di air pasti tenggelam. Padahal janin itu bernapas di dalam kandungan dengan tali pusat dan plasenta. Plasenta itu adalah sumber oksigennya," terang dr Hariyasa kepada detikHealth.

Ia menjelaskan sumber oksigen dan darah bayi adalah dari plasenta, maka ketika dilahirkan bayi sebenarnya masih mendapatkan suplai oksigen dari plasenta tersebut. Proses ini berangsur-angsur akan berubah menjadi pernapasan paru-paru, ketika bayi sudah diangkat dan merasakan udara. Juga ketika tali pusatnya sudah diklem.

Baca juga: Metode Water Birth: Redakan Nyeri Kontraksi dengan Berendam Air Hangat

"Jadi ketika diangkat dan kena udara, lalu daerah wajah bayi kena paparan udara, itu paru-paru mulai menggantikan plasenta memberi suplai oksigen. Bayi saat di dalam kandungan punya refleks menyelam atau diving, refleks ini masih bisa bertahan sesaat setelah dilahirkan," ungkap dr Hariyasa.

Yang terpenting, petugas pendamping harus memahami dan terus memantau detak jantung janin di dalam kandungan. Sebab potensi tenggelam bisa saja terjadi ketika bayi di dalam kandungan sudah dalam kondisi kekurangan oksigen, yang ditandai dengan perubahan detak jantung (menjadi lambat atau jadi tidak beraturan -red). Jika kondisinya demikian, ibu yang sedang berendam harus dievakuasi dan dilakukan penyelamatan janin.

Mengenai konsep steril dan risiko infeksi, dr Hariyasa juga menjelaskan bahwa pada dasarnya pada water birth air tidak harus steril. Yang penting suhunya cukup hangat (35-37 derajat Celcius), tidak berwarna, tidak berbau dan jernih.

"Kalau ada yang bilang airnya harus steril ya keliru, jalan lahir saja tidak steril dan banyak flora normalnya. Bayi tidak akan infeksi selama ia tidak menghirup air. Kuncinya adalah dengan memerhatikan denyut jantung bayi yang dijelaskan sebelumnya," imbuh dr Hariyasa.

Meski tak harus steril, kebersihan air yang digunakan untuk ibu berendam tetap perlu diperhatikan. Pantau suhu dan ganti air secara berkala agar tetap hangat. "Air itu justru sifatnya juga bisa 'membilas' bayi yang terpapar bakteri dari vagina," tuturnya.

Baca juga: Water Birth Disebut Upaya Tingkatkan Keberhasilan Persalinan Normal


(ajg/vit)