Jumat, 20 Jan 2017 19:03 WIB

Keamanan Water Birth Diragukan, Diusulkan Ada Kajian Bersama

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Salah satu alasan water birth belum banyak dilakukan di Indonesia adalah standar keamanannya yang masih diragukan. Penyebabnya, metode ini minim riset. Selain itu, teknik water birth juga belum masuk dalam kurikulum kedokteran. Salah satu dokter kandungan dan kebidanan pun mengusulkan agar digelar kajian bersama.

Seperti disampaikan oleh Ketua Fertilitas Endokrinologi Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), dr Andon Hestiantoro, SpOG (K) beberapa waktu lalu kepada detikHealth, sampai saat ini POGI masih belum memberikan rekomendasi untuk metode water birth. "Ini karena belum ada penelitian yang cukup tentang keamanannya," ucap dr Andon.

Menurut dr Andon, hasil kajian POGI menunjukkan belum ada bukti yang cukup bahwa water birth memberikan manfaat seperti yang banyak dibicarakan di masyarakat.

Baca juga: Kata Dokter Soal Risiko Infeksi dan Bayi Tenggelam pada Water Birth

Menanggapi hal ini, Ketua Indonesian Water Birth Association, dr I Nyoman Hariyasa Sanjaya, SpOG(KFM), MARS tak menampik bahwa di Indonesia metode water birth memang masih menjadi pro dan kontra. Menurutnya, ini karena belum banyaknya riset ilmiah yang dilakukan untuk menelaah lebih jauh tentang plus minus water birth.

"Di Indonesia dengan baca sumber tanpa pengamatan saja sudah bisa berpendapat. Harusnya uji dulu, baru boleh keluarkan opini. Saya praktik water birth sejak tahun 2007, saya kumpulkan data-data sendiri. Dari 125 pasien water birth yang saya tangani, tidak ada yang drown (bayi tenggelam -red)," tuturnya kepada detikHealth.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak ingin menjadikan water birth sebagai teknik utama persalinan. Teknik water birth ini hanya salah satu dari alternatif yang bisa dipilih ibu, jika ingin menurunkan nyeri persalinan.

"Kita perlu meluruskan, mari kita buat kajian bersama. Jadi supaya ada kejelasan dan ada manfaatnya, tidak dibiarkan pro kontra dan jadi kebingungan di masyarakat. Jika perlu dibuat kelompok kerja di POGI untuk mendalami metode mengatasi nyeri persalinan, diteliti, setelah itu baru keluarkan keputusan," tegas dokter yang berdomisili di Denpasar, Bali ini.

Dengan begitu, ia juga berharap kurikulum dan teknologi serta riset di bidang kedokteran Indonesia bisa terus berkembang. Selain itu jika sudah kajian bersama, para ibu yang ingin melahirkan dengan metode ini juga merasa lebih tenang.

(ajg/vit)