Kamis, 13 Agu 2020 04:25 WIB

Round Up

Fakta-fakta Dilematis di Balik Viral Pesepeda Terobos JLNT Antasari

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Car Free Day (CFD) berlangsung di Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Pangeran Antasari, Jakarta, Minggu(09/08/2020). Pengunjung CFD didominasi oleh para pesepeda. Ilustrasi pesepeda melintas di Car Free Day (Foto: Rengga Sancaya)
Topik Hangat Pesepeda Naik Flyover
Jakarta -

Serombongan pesepeda viral di media sosial setelah tertangkap kamera melintas di Jalan Layang Non Tol (JLNT) Antasari. Seorang warga, Anggara Gilang Dwiputra, mengabadikan momen tersebut dan mengunggahnya di Facebook.

Unggahan tersebut lalu dibagikan ulang lebih dari 900 kali. Berbagai komentar bermunculan, sebagian besar menyayangkan perilaku rombongan pesepeda yang dianggap tidak tahu aturan karena melintas di jalur yang tidak semestinya.

Pada waktu-waktu tertentu, jalan layang tersebut memang ditutup untuk kendaraan bermotor dan dibuka untuk pesepeda. Namun Anggara memastikan, momen tersebut terjadi pada hari Sabtu ketika tidak sedang ada Car Free Day (CFD).

"Kalau mereka tidak rombongan, mungkin tidak terlalu terganggu. Namun, dikarenakan mereka rombongan, jadinya menghambat mobil yang lewat," kata Anggara saat dihubungi detikcom.

Faktanya, urusan berbagi jalan dengan pesepeda memang cukup pelik. Beberapa fakta dilematis terangkum sebagai berikut:

1. Faktor keselamatan

Menurut Ketua Dewan Transportasi Jakarta (DTKJ), Haris Muhammadun, ada beberapa jalan layang atau flyover yang memang bisa dilintasi pesepeda. Ia mencontohkan salah satu flyover di Bintaro, yang bahkan dilengkapi jalur sepeda.

Aspek keselamatan jadi pertimbangan utama yang menentukan bisa tidaknya sepeda melintas di jalan layang. Salah satu fasilitas penunjang keamanan adalah adanya jalur khusus pesepeda maupun pop up bicycle lane.

"Kalau di JLNT Antasari sih, untuk pegowes sepeda memang lebih aman menggunakan jalur yang ada di bawah saja," tegas Haris.

Rambu-rambu JLNT AntasariRambu-rambu JLNT Antasari yang melarang pesepeda untuk melintas. Foto: Achmad Reyhan Dwianto/detikHealth

2. Aturannya abu-abu

Khusus untuk JLNT Antasari, rambu-rambu yang terpasang memang tidak spesifik melarang sepeda untuk melintas. Di akses masuk dari arah Blok M dan Jl Prapanca Raya, hanya ada rambu-rambu larangan untuk sepeda motor.

Rambu-rambu yang spesifik melarang pesepeda untuk melintas hanya ada di akses masuk dari arah Cilandak. Kasudinhub Jaksel Budi Setiawan mengakui tidak adanya larangan tegas untuk pesepeda di JLNT Antasari.

"Ya memang aturan pastinya ini nggak ada ya, yang ada rambunya rambu pemotor kan ya, tapi kan logikanya motor saja nggak diperkenankan, apalagi sepeda. Kan tingkat keselamatannya sangat tidak terjamin. Di Antasari itu kan space-nya sangat kecil, mobil kendaraan roda empatnya juga kenceng, kan," kata Budi.

Car Free Day (CFD) berlangsung di Jalan Layang Non-Tol (JLNT) Pangeran Antasari, Jakarta, Minggu(09/08/2020). Pengunjung CFD didominasi oleh para pesepeda.Tidak ada larangan spesifik untuk sepeda, hanya ada larangan untuk sepeda motor. Saat Car Free Day (CFD), semua kendaraan bermotor tidak boleh masuk. Foto: Rengga Sancaya

3. Gowes untuk olahraga Vs transportasi

Bagaimanapun, harus diakui tidak semua jenis sepeda bisa dengan nyaman menggunakan jalur khusus. Jenis sepeda khusus olahraga yakni roadbike atau sepeda balap misalnya, umumnya melaju dengan kecepatan tinggi hingga 40 km/jam sehingga malah berbahaya jika masuk jalur sepeda yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.

Belum lagi ada banyak hambatan di jalur tersebut, mulai dari lubang galian hingga parkir liar berbagai macam kendaraan. Itu sebabnya, banyak pesepeda memilih keluar dari jalurnya saat berolahraga, termasuk melintas di jalan layang.

Haris mengakui, jalur sepeda yang ada lebih diperuntukkan bagi sepeda sebagai sarana transportasi. Untuk olahraga, perlakuannya beda lagi.

"Kalau sepeda sport ada kriteria kusus, seperti CFD (Car Free Day) yang sengaja ditutup untuk bersepeda sehat dengan leluasa, tidak dibatasi dengan jalur sepeda yang disediakan," kata Haris.

Kalaupun harus mix atau bercampur dengan kendaraan lain, maka pesepeda harus mendapat pengawalan saat berolahraga. Itu artinya, butuh keikhlasan dari pengendara lain untuk saling berbagi jalan.

"Untuk sport loh, bukan untuk sehari-hari," tegasnya.



Simak Video "Pengusaha Taman Rekreasi Ngaku Dapat Berkah dari Komunitas Sepeda"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)
Topik Hangat Pesepeda Naik Flyover