Ginjal Kolaps karena Otot Rusak, Seserius Apa Ancaman Rhabdomyolysis saat Marathon?

Ginjal Kolaps karena Otot Rusak, Seserius Apa Ancaman Rhabdomyolysis saat Marathon?

detikHealth
Minggu, 21 Jun 2026 06:03 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Runners in a marathon.
Tren lari marathon juga menyimpan risiko. Foto: Getty Images/carlosalvarez
Jakarta -

Tren lari marathon ibarat dua sisi mata uang. Satu sisi menunjukkan kesadaran untuk hidup sehat dan aktif secara fisik, namun di saat yang sama juga punya risiko fatal ketika seseorang tidak punya cukup pemahaman tentang batas-batas kemampuan fisik.

Dalam satu kasus yang viral di media sosial belakangan ini, seorang pelari kolaps hingga harus menjalani cuci darah karena fungsi ginjalnya terganggu. Beberapa pakar mengaitkannya dengan Rhabdomyolysis, yakni kerusakan sel-sel otot yang pada akhirnya membebani ginjal.

Dokter spesialis penyakit dalam dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH mengatakan, risiko Rhabdomyolysis saat menjalankan olahraga ekstrem sebenarnya bisa dihindari. Salah satu sinyal yang wajib dikenali, paling umum adalah munculnya rasa lelah akut dan ini harusnya menjadi alarm yang harus diperhatikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kelelahan (akut, red). Dipaksakan kok itu, udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dr Tunggul saat dihubungi detikcom, Sabtu (20/6/2026).

ADVERTISEMENT

Apa Itu Rhabdomyolisis?

Dikutip dari Cleveland Clinic, rhabdomyolisis adalah suatu kondisi medis serius yang terjadi akibat kerusakan atau kematian jaringan otot rangka secara cepat. Kerusakan ini menyebabkan zat-zat di dalam sel otot (seperti protein mioglobin dan elektrolit) bocor ke aliran darah, yang berpotensi memicu kerusakan organ terutama ginjal.

Kondisi ini umumnya terjadi karena seseorang melakukan aktivitas secara berlebihan, trauma, atau pengobatan tertentu. Dengan kata lain, aktivitas fisik berat seperti marathon, juga berisiko mengalami kondisi ini.

Apa Tanda-tandanya?

Gejala dari rhabdomyolisis cukup bervariasi, dari ringan hingga berat. Gejala biasanya muncul satu hingga tiga hari setelah cedera otot, meskipun beberapa orang mungkin bahkan tidak merasakan nyeri otot.

Sebagian orang juga mengalami:

  • Dehidrasi
  • Penurunan frekuensi buang air kecil.
  • Mual
  • Penurunan kesadaran


Apakah Bisa Sembuh?

Kabar baiknya, rhabdomyolisis menurut dr Tunggul memiliki beberapa tingkatan dan ini merupakan kondisi Acute Kidney Injury (AKI) atau gangguan ginjal akut yang bisa disembuhkan.

"Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa pulih, red) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," katanya.

"Makin cepat dia diambil tindakan sesuai dengan indikasi, maka tentu dia akan reversible," tutupnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Tips Lari Malam buat Pekerja Kantoran"
[Gambas:Video 20detik] (dpy/up)
Ancaman Rhabdomyolisis di Balik Tren Lari
7 Konten
Kerusakan sel-sel otot akibat aktivitas fisik yang ekstrem juga bisa dialami oleh pelari marathon ketika memaksakan tubuh melebihi batas-batas kemampuannya. Dokter mengingatkan risiko Rhabdomyolisis, yang dampaknya bikin ginjal bisa kolaps.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads