HYROX Beijing 2026 belakangan menjadi perbincangan di media sosial. Bukan karena euforianya, melainkan ada atlet yang 'cepirit' atau encopresis saat perlombaan.
Atlet tersebut bernama Joanna Wietrzyk yang berasal dari Australia. Alih-alih berhenti, Joanna tetap melanjutkan pertandingan dan berhasil memenangkan ajang Women's Pro Solo dengan catatan waktu 1:01:23.
Keputusan yang diambil Joanna untuk tetap bertanding menuai pro kontra di masyarakat. Ada yang mendukung keputusan tersebut karena dinilai menjadi bukti daya juang seseorang, namun adapula yang tak sepakat karena "melanggar" dengan kepantasan sosial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beredar kabar bahwa alasan Joanna untuk tidak berhenti adalah karena adanya kontrak dengan salah satu brand olahraga, sehingga mengharuskannya menyelesaikan kompetisi.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan, penyelenggara HYROX mengatakan bahwa HYROX memiliki prosedur yang jelas terkait kontaminasi biologis dan penanganan medis. Namun, dalam insiden ini, muncul situasi yang tidak terduga ketika protokol yang dirancang untuk kompetisi atlet elite dan partisipasi massal menjadi kurang jelas batas penerapannya.
"Dalam kejadian ini, muncul situasi tak terduga di mana protokol yang dirancang untuk kompetisi elite dan partisipasi massal menjadi tumpang tindih, sehingga menimbulkan ketidakjelasan terkait penerapan dan pemahamannya," demikian tertulis dalam akun Instagram HYROX Official, Selasa (15/9/2026).
@detikhealth_official Atlet diare race tetap jalan, tapi kenapa meludah bisa kena penalti? Di HYROX, meludah atau mengeluarkan kotoran/lendir dari hidung ke lantai race ternyata dilarang. Tapi, kenapa aturan soal meludah dibuat begitu ketat? 🤔 Yuk, bedah faktanya di Unjuk Gigi! 🦷 Creator: Nima #unjukgigi#tipskesehatan#kesehatangigi#detikHealth ♬ original sound - detikHealth
Kontaminasi Feses
Atas insiden tersebut pihak penyelenggara dikabarkan telah melakukan sterilisasi arena, sehingga menekan risiko kontaminasi penyakit terhadap atlet lain.
Ditanya mengenai situasi ini, dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH FINASIM dari Mayapada Hospital mengatakan ada beberapa penyakit yang mungkin bisa ditularkan melalui feses di situasi terbuka seperti arena HYROX.
"Efek penularan pada tempat umum biasanya bisa terjadi terutama pada penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air droplet maupun yang lewat sentuhan," kata dr Aru saat dihubungi detikcom, Selasa (15/9/2026).
"Seperti penyakit virus influenza, demam singapore, cacar, dan sebagainya. Kalau dari feses bisa menularkan seperti demam tifoid, hepatitis A ataupun infeksi E. coli," sambungnya.
Penularan ini, lanjut dr Aru juga bisa terjadi dari ketidaksengajaan sentuhan feses oleh atlet lain dan masuk ke dalam tubuh.
"Semua bisa dari sentuhan tangan ke alat yg terkontaminasi. Tangan tidak dicuci atau alat tidak dibersihkan," tutupnya.










































