Heart Rate 'Meledak' di 90+7 Indonesia Vs Bangladesh? Ini Penjelasan Medisnya

Heart Rate 'Meledak' di 90+7 Indonesia Vs Bangladesh? Ini Penjelasan Medisnya

detikHealth
Jumat, 02 Okt 2026 14:17 WIB
Devandra Abi Prasetyo
Ditulis oleh:
Devandra Abi Prasetyo
Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fans Manchester United yang juga eks pesepakbola semi-profesional. Banyak menulis soal olahraga dari sudut pandang hidup sehat.
Timnas Indonesia tampil menggila dengan membantai Bangladesh 9-2 dalam laga FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Kamis (1/10/2026) malam WIB. Kemenangan telak ini memastikan skuad Garuda melaju ke partai final setela
Momen Indonesia vs Bangladesh (Foto: Agung Pambudhy/detikFoto)
Jakarta -

Menit-menit akhir pertandingan Timnas Indonesia Vs Bangladesh bisa membuat penonton ikut tegang. Saat laga memasuki masa injury time atau 90+7, tak sedikit suporter yang merasakan jantung berdebar hingga merinding.

Sensasi tersebut sebenarnya bukan sekadar perasaan. Tubuh memang dapat memberikan respons fisik ketika seseorang menghadapi situasi yang dianggap menegangkan atau penuh ketidakpastian.

Ditanya mengenai ini, Spesialis Jantung Konsultan Pembuluh Darah Ahli Ilmu Faal Olahraga, Dr dr Vito A Damay, SpJP(K) mengatakan bahwa ini merupakan respons siaga tubuh atas kejadian yang sedang dialami.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saat pertandingan memasuki menit penentu, kita merasakan campuran cemas, berharap, takut kalah, dan ingin menang. Emosi ini mengaktifkan sistem siaga tubuh. Adrenalin dilepaskan, sehingga jantung berdetak lebih cepat dan lebih kuat," kata dr Vito kepada detikcom, Jumat (2/10/2026).

"Napas pun bisa menjadi lebih cepat. Itulah sebabnya debaran terasa begitu nyata, meskipun kita hanya menonton," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

dr Vito menambahkan, pertandingan semalam memang berbeda dari laga-laga sebelumnya. Banyak peluang, banyak gol, dan banyak kemungkinan yang bisa membuat jantung terasa berdebar lebih lama.

"Karena ketegangannya terus berlanjut. Setiap peluang, perubahan skor, dan detik yang mendekatkan pertandingan ke peluit akhir kembali memicu respons tubuh namun penuh ketidakpastian," katanya.

"Ibarat pedal gas yang terus ditekan, jantung belum mendapat kesempatan untuk melambat. Yang dipikirkan bukan cuma menangnya tapi apakah kemenangan ini meloloskan Indonesia ke final karena ada pertandingan lain ikut menentukan," lanjutnya.

Bahkan, setelah pertandingan, lanjut dr Vito, debaran tersebut masih bisa terasa cepat. Hal ini karena tubuh tetap butuh waktu untuk beradaptasi dan kembali ke mode normal.

"Bahkan setelah pertandingan selesai, tubuh bisa membutuhkan waktu untuk kembali tenang. Bukan hanya rasa takut yang memicu debaran kegembiraan dan kelegaan yang luar biasa juga bisa," katanya.

"Di luar menonton, kurang tidur, lelah, dan konsumsi kopi atau minuman energi dapat membuat debaran lebih mudah muncul pada sebagian orang," sambungnya.

Namun, dr Vito mengingatkan bahwa debaran singkat yang mereda saat kita tenang sering merupakan respons terhadap emosi. Namun, bila debaran menetap, tanpa ada apa apa, sering berulang, atau terasa tidak teratur, sebaiknya periksakan diri, terutama jika sudah memiliki penyakit jantung.



(dpy/up)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads