Wulan Ayu Ramadhani M.Psi
Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani M.Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah https://pranikah.org/
Selasa, 12 Des 2017 17:15 WIB

Saran Psikolog Saat Gaji Suami Lebih Kecil dari Gaji Istri

Saat gaji suami lebih kecil dari gaji istri, harus bagaimana?Foto: thinkstock Saat gaji suami lebih kecil dari gaji istri, harus bagaimana?Foto: thinkstock
Jakarta - Halo Mbak, bagaimana cara mengatur rumah tangga. bila gaji suami lebih kecil dari istri. Apakah ada kesalahan bila kondisi seperti ini.

R (Laki-laki, 20 tahun)

Jawaban

Dear Mas R,

Sebenarnya tidak ada salah benar dalam situasi di mana gaji suami lebih kecil dari istri. Selama pasangan memang sama-sama mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkan gaji sejumlah yang didapat saat ini, dan bersedia untuk saling menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Apakah kondisi ini bisa memicu konflik dalam rumah tangga? Tentu. Budaya di Indonesia seringkali menganggap bahwa laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarga, sehingga ia dituntut sebagai tulang punggung keluarga dan seakan merasa ada tuntutan untuk memiliki penghasilan lebih dari istrinya. Laki-laki yang memegang teguh nilai ini bisa saja jadi mengalami perasaan tidak nyaman ketika penghasilan pasangan lebih rendah dari istri, dan menjadi rendah diri. Begitu juga dengan perempuan yang memiliki nilai ini, bisa membuat istri menjadi sombong, merasa lebih berkontribusi lebih dalam keluarga, dsb.

Saya belum memahami maksud Anda dengan 'bagaimana cara mengatur rumah tangga'. Saya hanya akan memberi gambaran umum apa yang bisa dilakukan pasangan yang berada pasa situasi tersebut.

Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah, sbb:

- Tidak merendahkan atau meninggikan salah satu pihak yang memiliki penghasilan lebih tinggi atau rendah. Selayaknya sebuah perkawinan, hubungan suami istri merupakan relasi setara, tidak ada yang dianggap lebih rendah atau tinggi hanya karena jumlah penghasilan.
- Buat kesepakatan bagaimana masing-masing pihak dapat berkontribusi terhadap kebutuhan rumah tangga dengan kondisi keuangan yang ada, dengan cara mengatur kembali pembagian pengeluaran kebutuhan di dalam keluarga. Misalnya, apakah seluruh pengeluaran total kebutuhan rumah tangga akan dibagi 50 :50 antara suami dan istri. Atau misalnya suami membayar pengeluaran untuk tagihan-tagihan listrik, air, telepon, tv, dsb, sementara istri membeli kebutuhan harian rumah tangga.
- Jika jumlah penghasilan Anda berdua memang tidak mencukupi untuk semua kebutuhan, diskusikan kembali mana kebutuhan yang memang harus dikeluarkan (kebutuhan pangan, listrik, air), bisa disesuaikan (langganan tv kabel, pulsa bulanan, dsb) atau bisa dikeluarkan dari list kebutuhan (terkait dengan gaya hidup, seperti frekuensi makan di luar, rokok, dsb).

Bagaimanapun nantinya Anda dan pasangan mengatur keuangan, keterbukaan akan pemasukan dan pengeluaran menjadi hal penting untuk dilakukan. Terutama jika ada pemasukan atau pengeluaran di luar hal yang sudah rutin.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/ (hrn/up)
News Feed