Wulan Ayu Ramadhani M.Psi
Konsultasi Psikologi Seks dan Perkawinan
Wulan Ayu Ramadhani M.Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah https://pranikah.org/
Rabu, 27 Des 2017 17:45 WIB

Wanita yang Belum Menikah Tanda Tidak Laku?

Kualitas wanita sering dibaca dari sudah atau belumnya wanita tersebut berumah tangga, padahal tidak begitu adanya.  Foto: Thinkstock Kualitas wanita sering dibaca dari sudah atau belumnya wanita tersebut berumah tangga, padahal tidak begitu adanya. Foto: Thinkstock
Jakarta - Halo Bu, saya mohon pencerahannya. Benarkah kualitas perempuan dilihat dari sudah menikah atau tidaknya. Banyak orang di luaran sana menganggap wanita yang belum menikah dianggap tidak laku. Bagaimana cara mengubah mindset masyarakat yang seperti itu padahal belum tentu iya tidak ada yang ingin menikahi.

P (Wanita, 24 tahun)

Jawaban

Dear Mbak P,

Kualitas seorang perempuan tentu saja tidak hanya dinilai dari status pernikahannya. Pertanyaan atau tekanan untuk berumah tangga pada usia tertentu biasanya memang wajar, karena pada tugas perkembangannya seseorang memang diharapkan untuk menjalin hubungan romantis dan membangun rumah tangga pada saat ia menginjak dewasa. Namun, ketika pertanyaan itu diajukan terus menerus atau menghadirkan komentar-komentar negatif, seperti "tidak laku", tentu saja bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman.

Mengubah mindset masyarakat tentu saja membutuhkan banyak usaha, namun bukan tidak mungkin. Tentu saja ini bisa dimulai dengan bagaimana cara kita menanggapi lingkungan sekitar Anda mengenai hal ini. Misalnya, jika ada orang menganggap kita belum menikah karena tidak laku, tidak usah ditanggapi dengan kekesalan, melainkan dengan senyuman atau tertawa kecil. Hal ini sepertinya sederhana, namun bisa membantu kita untuk mengatur mood untuk menanggapi komentarnya. Jika kita memang benar-benar bahagia dengan status lajang yang kita pilih saat ini, tersenyum tidak akan menjadi hal yang sulit untuk dilakukan, bukan?

Kedua, tunjukkan bahwa kita memang bahagia dengan pilihan kita untuk melajang saat ini. Misalnya, jadi punya banyak waktu untuk mengeksplorasi diri atau melakukan kegiatan yang disenangi, menikmati waktu untuk meniti karir, dsb.

Apapun yang dilakukan untuk menghadapi orang di luar sana, yakinkan diri sendiri bahwa melajang ataupun menikah merupakan sebuah pilihan yang dibuat secara sadar. Bukan karena keadaan ataupun keterpaksaan. Jika kita memang benar-benar bahagia dengan pilihan yang dibuat, kita tidak akan terlalu memikirkan pemikiran negatif orang lain di luar sana. Selamat berbahagia!

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
https://pranikah.org/ (hrn/up)
News Feed