Selasa, 21 Feb 2012 15:56 WIB

Perlukah Jujur Bila Sudah Tidak Perawan?

Jakarta -

Ada sepupu saya punya cerita buruk di masa kecil, ia jadi pelampiasan nafsu pamannya sendiri pada saat umur 11 tahun. Sekarang, dia mau menikah dia takut sekali dicap sebagai wanita yang tidak perawan lagi oleh suaminya nanti. Dia bingung harus bagaimana dok, ataukah dia harus jujur kepada calon suaminya kalau dia pernah digauli pamannya semasa kecil?

NN (Perempuan Lajang, 26 Tahun), musliXXX_XX@yahoo.co.id
Tinggi Badan 152 Cm dan Berat Badan 43 Kg

Jawaban

Dear NN, pertama saya perlu tegaskan bahwa keperawanan penting tetapi bukan segalanya. Artinya kehilangan keperawanan dengan alasan apapun janganlah membuat kita sebagai perempuan berhenti menghargai diri kita sebagaimana kita pantas dihargai.

Kehilangan keperawanan terlebih karena kejadian traumatis memang berat dihadapi tetapi ingatlah ini bukan kesalahan teman Anda sampai ia diperkosa, jangan berikan kemenangan pada si pemerkosa dengan merampas masa depan teman Anda juga.

Saran saya, teman Anda bersama dengan kedua orang tuanya berbicara dari hati ke hati dengan calon suaminya. Ungkapkan kejadian traumatis masa lalu dengan tujuan jika ada permasalah hubungan suami istri terkait trauma seksual masa lalu dirinya, maka si suami siap memberikan dukungan moril yang ia butuhkan.

Pengakuan itu BUKAN untuk mengakui perawan atau tidak perawan, karena hal ini sudah berlalu dan tidak dapat dirubah lagi, tapi harus fokus pada apa yang bisa dilakukan untuk ke depan.

Kejujuran merupakan modal memulai hubungan yang baik, jika si calon suami mempermasalahkan soal kehilangan keperawanan, maka sisi baiknya teman Anda mengetahui ia tidak perlu menikahi pria yang tidak realistis. Tidak realistis karena mempermasalahkan kenyataan yang terjadi di masa lalu yang sudah tidak bisa diubah. Jangan patah semangat, karena teman Anda seorang survivor bukan korban.

Zoya Amirin, M.Psi
Psikolog seksual bersertifikasi yang memiliki pendidikan seksual yang berlatar belakang psikologi. Ketua dalam Komunitas Studi mengenai Perilaku Seksual, anggota dari Asosiasi Seksologi Indonesia.

Pengajar mata kuliah Kesehatan Reproduksi, Ilmu Hubungan antar manusia, Public Relation, Ilmu Komunikasi Dasar di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.



(mer/ir)