Senin, 11 Jul 2016 17:11 WIB

Suami Tetap Melakukan Kesalahan yang Sama Meski Sudah Ketahuan Selingkuh

Foto: thinkstock
Jakarta - Salam kenal Mbak Wulan. Saya mau bertanya, tapi sebelumnya saya menceritakan jati diri saya sebelum menikah dengan suami saya, hubungan kami sebelum menikah sangat mesra. Tapi semenjak menikah dan mempunyai anak 1, suami saya ketahuan selingkuh, bahkan dia meminta foto-foto yang tidak pantas ke wanita-wanita dan sering sekali dia melakukan kesalahan yang sama.

Saya sudah membicarakan masalah ini dengan suami, dan bicara maunya seperti apa? Tapi jawabannya hanya 'itu kan hanya di dunia maya dan tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh'. Hati saya benar-benar sakit dan kecewa dengan perbuatan suami saya, sampai saya selalu berpikiran negatif tentang dia dan berniat untuk berpisah dengan dia

Menurut Mbak Wulan, saya harus bagaimana? Dipertahankan atau harus berpisah? Terimakasih.

Amelia (Wanita, 23 tahun)
alexisXXXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi 157 cm, berat 60 kg

Jawaban

Dear Mbak Amelia,

Saya bukan orang yang bisa memutuskan apakah Mbak Amelia harus bercerai atau bertahan. Yang bisa saya sampaikan pada Mbak, perceraian adalah keputusan yang harus dipikir baik-baik dengan kepala dingin.

Dua tahun perkawinan memang merupakan masa kritis di mana masing-masing pihak mulai melihat siapa pasangan mereka sesungguhnya. Jika kadar kemesraan pada saat pacaran itu mendapat nilai 8, pada saat menikah rata-rata memang mengalami penurunan. Apakah itu mengurangi kadar rasa sayang yang ada? Tidak selalu. Karena ketika di awal perkawinan ini ritme pasangan berubah. Kehadiran anak tentu saja turut menjadi bagian dari perubahan ritme pasangan, yang sekarang selain memiliki peran istri dan suami, juga merupakan ayah dan ibu. Perubahan-perubahan tersebut yang menimbulkan tantangan maupun kecemasan.

Saya memahami jika Mbak Amelia merasa sakit dan kecewa atas perlakuan suami. Saya tidak tahu bagaimana cara Mbak Amelia membicarakan masalah ini dengan suami. Namun, dari respon suami yang Mbak Amelia sampaikan, saya melihat suami belum memahami bahwa perilaku yang ia lakukan di dunia maya membuat Mbak Amelia merasa tersakiti dan dikhianati. Karena pada beberapa pasangan, memang ada yang merasa berfantasi dengan perempuan lain bukan merupakan masalah, toh tidak dilakukan di dunia nyata.

Ada baiknya Mbak Amelia membicarakan kembali dengan pasangan. Kali ini fokusnya adalah menyampaikan apa yang Mbak Amelia rasakan dan betapa Mbak Amelia juga ingin memahami apa yang sebenarnya pasangan cari dari perilakunya tersebut untuk mencari solusi bersama. Misalnya 'saat kamu memperlakukan perempuan lain seperti itu, meskipun itu hanya di dunia maya, saya merasa saya sudah tidak menarik lagi di mata kamu dan saya merasa sedih dan kecewa. Tapi tidak adil rasanya kalau saya menyimpulkan bahwa itu terjadi karena saya tidak menarik lagi atau memang kamu pada dasarnya tukang selingkuh. Jadi, bantu saya memahami kamu juga apa yang kamu dapatkan dengan melakukan itu, agar kita bisa sama-sama memahami dan tahu apa yang perlu kita lakukan ke depannya'.

Tingkatkan kualitas komunikasi dan perjelas dengan cara apa Mbak Amelia dan pasangan ingin diperlakukan, bukan sesuatu yang umum seperti 'ingin kamu lebih baik lagi', tapi sesuatu yang kongkrit misalnya 'Saya ingin kamu membatasi diri, atau paling tidak mengurangi frekuensi, untuk meminta foto-foto yang tidak pantas kepada perempuan yang kamu hubungi'

Jika memang ternyata tidak ada perubahan juga, tanyakan kepada diri Mbak Amelia beberapa pertanyaan berikut:

- Apakah Mbak bahagia dengan situasi pernikahan dari awal menikah hingga saat ini?
- Apakah Mbak merasa sudah melakukan usaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah yang ada?
- Apakah terlepas dari perilakunya di dunia maya, pasangan sebenarnya adalah ayah dan suami yang bertanggung jawab?
- Apakah ada perilaku positif dari dirinya yang membuat ia dulu layak menjadi pasangan, dan masih ia lakukan sampai sekarang?
- Apakah menurut Mbak perilaku suami adalah hal yang masih bisa ditoleransi, karena hanya terjadi di dunia maya, atau harga mati untuk perpisahan?

Semakin banyak jawaban positif atas pertanyaan yang ada, semakin mungkin hubungan tersebut untuk dipertahankan. Tentu saja dengan adanya kompromi dengan suami tentang apa yang bisa dilakukan ke depannya. Jika jawabannya lebih banyak yang negatif, cari pihak luar yang dapat membantu Mbak Amelia melihat pilihan-pilihan yang ada. Sehingga jika pada akhirnya keputusan bercerai tetap diambil, keputusan tersebut memang Mbak Amelia ambil karena keputusan yang matang, apalagi sudah ada anak di dalam perkawinan yang juga tetap memerlukan sosok ayah meskipun orangtuanya sudah bercerai.

Apapun pilihannya, pastikan sudah melihat segala konsekuensi yang mungkin terjadi atas pilihan-pilihan yang dibuat. Pilihlah pilihan yang paling dapat Mbak Amelia terima dan jalani untuk saat ini. Karena bagaimanapun Mbak Amelia yang menjalankan dan memiliki kendali atas kebahagiaan Mbak Amelia.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/up)