Kamis, 14 Jul 2016 15:14 WIB

Gairah Bercinta Hilang karena Dibayangi Rasa Bersalah pada Istri

Foto: thinkstock
Jakarta - Mbak, saya pernah berselingkuh sekitar satu tahun lalu dan istri tahu. Lalu hubungan kami sekarang sudah membaik. Hanya saja, saat ini tiap akan berhubungan intim, saya tidak bisa bergairah karena terus dibayangi rasa bersalah pada istri. Padahal, istri sudah memaafkan saya. Bagaimana Mbak solusinya?

Jon (Pria, 37 tahun)
johnXXXXXX@yahoo.co.id
Tinggi 173 cm, berat 66 kg

Jawaban

Dear Pak Jon,

Efek perselingkuhan memang tidak hanya berdampak kepada korban saja, dalam hal ini istri Bapak, tetapi juga pada pelaku. Bagaimana dampak dan tahapan bagaimana mengatasinya tentu saja berbeda-beda pada setiap orang. Namun Bapak perlu mneyadari bahwa perasaan bersalah juga seringkali tidak hanya dialami oleh pelaku, tetapi juga korban. Pada banyak kasus, pasangan juga bisa menyalahkan dirinya sendiri, seperti tidak bisa melayani suami dengan baik, kurang cantik, kurang menarik, dsb, yang membuat ia menyalahkan dirinya sendiri karena menjadi penyebab perselingkuhan suami.

Setelah perselingkuhan, apakah Bapak ibu sudah bisa membicarakan perasaan masing-masing secara terbuka? Apa yang ibu rasakan, apa yang Bapak rasakan? apa saja yang sudah Bapak ibu lakukan untuk membangun kembali hubungan?

Bapak menyatakan bahwa istri sudah memaafkan? Apa tanda-tanda ia sudah memaafkan? Apa yang membuat Bapak meyakini bahwa itu adalah pemafaan dan bukan menerima karena ketakutan akan kehilangan? Beberapa kasus yang pernah saya tangani seringkali hubungan terlihat membaik, padahal masalah yang ada sebenarnya belum selesai, yang dapat berpengaruh kurang baik terhadap hubungan dalam jangka panjang.

Pada tahap awal setelah mengetahui perselingkuhan, biasanya pasangan mengalami yang namanya fase krisis. Biasanya disini terjadi emotional roller coaster, kurang tidur, tidak nafsu makan, banyaknya argumen dan konflik. Pada tahap ini juga ada pasangan yang pasangan yang berhubungan seksual lebih intim dan intense dibanding sebelumnya. Bukan berarti kesalahan sudah dimaafkan, tetapi ini wajar terjadi ketika pasangan merasa takut kehilangan satu sama lain, sehingga butuh untuk merasa terhubung dan bersentuhan satu sama lain. Namun, ada juga pasangan yang justru tidak bisa bersentuhan dengan pasangannya. Penyebabnya bisa bermacam-macam, seperti rasa bersalah, malu, merasa tidak mengenali pasangan yang sudah ia nikahi, perasaan marah, perasaan kecewa, perasaan jijik, dsb.

Pertanyaannya adalah, apakah cara Bapak dan istri saat ini masih di fase yang sama, atau sudah berbeda? Kalaupun sama, apakah Bapak dan istri menghadapinya dengan cara yang sama atau berbeda? Sebaiknya bicarakan perasaan Bapak secara terbuka kepada pasangan, dan cari tahu apa yang ia rasakan ketika Bapak tidak bisa berhubungan dengan pasangan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpamahan yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya, Bapak tidak bisa berhubungan seksual karena merasa bersalah, sementara pasangan bisa saja merasa bahwa Bapak masih memikirikan selingkuhan dan mulai membanding-bandingkan.

Jika sudah dibicarakan secara terbuka, Bapak dan istri bisa mencari kesepakatan bersama apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali keintiman. Misalnya, tidak langsung berhubungan seksual, tetapi tidur sambil memeluk atau berpengangan tangan dulu, memberi ciuman ringan di kening atau di bibir, secara bertahap. Terkadang prosesnya bisa berjalan lama ataupun hanya dalam hitungan hari. Tergantung bagaimana Bapak dan istri mengelola ketakutan kecemasan dan segala emosi yang terlibat di dalamnya. Selamat membuka diri ya, Pak.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)