Jumat, 12 Agu 2016 16:12 WIB

Menjalin Hubungan dengan Duda yang Menjadi Ayah dari Teman Dekat Anak

Foto: thinkstock Foto: thinkstock
Jakarta - Salam Mbak Wulan, saya seorang janda dua anak. Anak saya yang pertama berusia 20 tahun. Nah, saat ini saya sedang dekat dengan seorang pria dan dia duda. Ternyata, belakangan baru saya ketahui bahwa anak saya ini juga sedang dekat dengan anak kenalan saya tersebut.

Saya rasa saya cocok dengan pria ini dan saya berniat serius, begitu juga sebaliknya pria ini juga mau serius dengan saya. Masalahnya, kami masih memikirkan hubungan anak kami ini Mbak (kebetulan anak kami belum tahu kalau kami ini sedang dekat).

Menurut Mbak Wulan apa yang bisa saya lakukan? Apakah kami harus menyuruh anak kami saling menjauh karena nantinya mereka bakal jadi saudara tiri? Atau apa memang kami sebagai orang tua yang harus mengalah mengakhiri hubungan ini dan membiarkan anak kami melanjutkan hubungan mereka? Terimakasih.

Saliha (Wanita, 49 tahun)
saliha.XXXXXX@gmail.com
Tinggi 166 cm, berat 56 Kg

Jawaban

Dear Ibu Saliha,

Saya belum memahami apa yang membuat Ibu Saliha merasa bahwa harus ada salah satu pihak yang mengalah untuk menikah. Apa yang Ibu khawatirkan? Efeknya terhadap hubungan antara Ibu dan suami nantinya, dengan anak tiri yang juga menikah kah? Atau secara agama kah? Omongan keluarga besar kah? Atau bagaimana?

Jika yang Ibu khawatirkan dari segi agama, sepemahaman saya saudara tiri tetap boleh menikah karena tidak ada hubungan darah/bukan mukhrim. Namun, jika ini yang Ibu khawatirkan, sebaiknya konsultasikan dengan orang yang lebih kompeten dalam menjawab permasalahan agama.

Langkah selanjutnya, sebaiknya Anda dan pasangan terbuka kepada anak-anak tentang hubungan yang Anda jalani. Nyatakan bahwa Anda berdua serius dan ingin melanjutkan hubungan ke tahapan yang lebih serius dan lihat bagaimana mereka berespon terhadap hal tersebut.

Jika ternyata masalah ini membawa pertengkaran, sebaiknya lakukan konseling keluarga sebelum memutuskan siapa yang 'harus' mengalah. Konseling ini dilakukan agar setiap orang yang terlibat dapat menyampaikan kekhawatiran dan ketidaksetujuan mereka dengan adanya pihak netral, sehingga bisa menemukan alternatif-alternatif solusi bersama tanpa ada yang perlu merasa hubungannya 'dikorbankan'. Selamat berbahagia untuk Anda yang punya kesempatan kedua.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/ (hrn/vit)