detikhealth

Bayi Sehat Hilang Akibat Salah Diagnosis Keguguran

Vera Farah Bararah - detikHealth
Jumat, 14/10/2011 10:56 WIB
Bayi Sehat Hilang Akibat Salah Diagnosis Keguguran(Foto: thinkstock)
Jakarta, Banyak kehamilan sehat di dunia diklasifikasikan sebagai keguguran setiap tahunnya, sehingga pasangan harus kehilangan bayi sehatnya. Salah satu yang membuat perempuan didiagnosis keguguran adalah kejadian perdarahan.

Di Inggris misalnya sekitar 400 kehamilan sehat diklasifikasikan sebagai keguguran setiap tahunnya. Untuk itu dibutuhkan pedoman baru yang mencakup pengukuran lebih luas dan strategi 'watch and wait'.

Para ahli mengatakan pedoman saat ini tidak selalu dapat diandalkan dalam menentukan apakah perempuan mengalami nyeri atau perdarahan akibat keguguran di awal kehamilan atau tidak.

Tenaga kesehatan membuat penilaian berdasarkan pada pengukuran embrio atau kantung kehamilannya seperti yang terlihat dalam scan ultrasound. Tapi hasil ini bisa akurat tapi bisa juga tidak.

"Ada risiko perempuan yang mengalami nyeri atau perdarahan pada awal kehamilan didiagnosis mengalami keguguran dan lalu memilih menjalani pembedahana atau perawatan medis, padahal kehamilannya sebenarnya sehat," ujar Prof Tom Bourne selaku ketua tim dari Imperial College London, seperti dikutip dari Telegraph, Jumat (14/10/2011).

Selama ini jika perempuan mengalami nyeri atau perdarahan maka dokter akan melakukan pemeriksaan. Jika kantung kehamilan tampak kosong dan memiliki diameter kurang dari 20 mm digolongkan sebagai Intrauterine Pregnancy of Uncertain Viability dan dianjurkan untuk mengulangi scan seminggu kemudian.

Selain itu jika pengukuran embrio kurang dari 6 mm dari puncak kepala sampai bokong dan tampaknya tidak memiliki detak jantung maka digolongkan sebagai keguguran. Biasanya perempuan disarankan untuk menjalani operasi atau mengonsumsi obat medis untuk mengeluarkan janin.

Tapi pada studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Ultrasound in Obstetrics, peneliti menemukan bahwa pengukuran ini tidak didasarkan pada bukti yang baik dan praktisi medis yang berbeda bisa menghasilkan data yang tidak sama pada janin yang sama.

Para peneliti mengungkapkan untuk amannya perempuan bisa menunggu 7-10 hari untuk melakukan scan kembali sebelum memutuskan untuk mengakhiri kehamilannya, karena terkadang kecemasan bisa mempengaruhi status kehamilan.

"Hasil ini membuat para staf klinis harus terus berhati-hati dalam mendiagnosis kehamilan untuk meminimalkan risiko kesalahan diagnosa," ujar Dr Mark Hamilton, konsultan ginekolog di Aberdeen Maternity Hospital.

(ver/ir)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit