detikhealth

Ulasan Khas

Ada Jutaan Pemadat, Indonesia Sasaran Empuk Bandar Narkoba

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Rabu, 06/06/2012 12:03 WIB
Ada Jutaan Pemadat, Indonesia Sasaran Empuk Bandar Narkobailustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta, Pangsa pasar penjualan narkoba di tanah air sangat besar. Dari 3,2 - 4,8 juta jumlah pecandu di Indonesia, hanya 0,04 persen yang masuk ke pusat rehabilitasi. Artinya, jumlah permintaaan akan narkoba ini relatif stabil atau mungkin justru bisa bertambah banyak. Sesuai hukum ekonomi, banyaknya permintaan akan diimbangi dengan naiknya penawaran.

Pengedar narkoba selalu mengincar remaja yang lebih mudah dipengaruhi dan mau melakukan apapun untuk mendapat bahan haram tersebut. Tidak bisa dipungkiri, bisnis narkoba selalu menemukan pangsa pasarnya sendiri meskipun sanksi yang mengancam begitu berat, yaitu hukuman mati.

Pada keluarga dengan ekonomi yang kurang mampu, kecanduan narkoba dapat lebih mudah menyebar dengan cara mengajak kerabat atau teman untuk mengkonsumsi narkoba. Karena tidak mampu membeli narkoba, pecandu kebanyakan berupaya mendapat uang dengan cara merangkap sebagai pengedar untuk dapat membeli narkoba. Dan orang yang ditawari tentu saja orang-orang di sekitarnya.

Para pengedar mendapat pasokannya baik dari dalam maupun luar negeri. Ganja kebanyakan dipasok dari dalam negeri, bahkan beberapa daerah di Indonesia memiliki produk ganja sendiri seperti ganja Aceh dan Papua. Di seluruh dunia, ada 172 negara yang dapat memproduksi ganja.

Sabu-sabu dan ekstasi bisa dibuat dari dalam negeri dan juga dipasok dari luar negeri seperti Iran, Malaysia, Thailand dan Cina. Heroin diperoleh dari kawasan bulan sabit emas seperti Iran,Pakistan dan Afganistan. 95% produksi heroin dunia berasal dari Afganistan. Kokain banyak dipasok dari negara Amerika Latin seperti Iran, Bolivia dan Kolumbia.

"Saat ini, kecenderungan mulai beralih dengan banyaknya pemakai narkoba yang lebih banyak memilih ganja. Alasannya karena mudah didapat dan dibudidayakan. Sedangkan tanaman untuk memproduksi kokain dan heroin membutuhkan tempat yang luas dan perawatan yang lebih intensif," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto seperti dihubungi detikHealth, Rabu (6/6/2012).

Mengenai masuknya narkoba dari luar negeri, Sumirat menuturkan bahwa dulu memang banyak orang asal Afrika yang direkrut sebagai kurir narkoba. Namun kecenderungan ini berubah karena makin banyak kurir dari benua hitam tersebut yang tertangkap basah.

Metode penyelundupan kemudian berubah dengan cara menggunakan wanita berbaju muslim dan bercadar sebagai kurir dengan asumsi petugas tidak akan mencurigai wanita berpakaian muslim. Namun cara ini juga terbongkar. Maka pada tahun 2011 - 2012, kecenderungannya berubah dengan cara memakai jasa orang Malaysia sebagai kurir karena secara fisik lebih sulit dibedakan dengan orang Indonesia.

Gigihnya upaya ini cukup beralasan jika melihat jumlah keuntungan yang diperoleh. Jumlah uang yang beredar dari penjualan narkoba di seluruh dunia sekitar US$ 300 miliar atau Rp 2.830 triliun. Di Indonesia saja, jumlahnya sekitar Rp 48 - 50 triliun. Produsen narkoba bisa mendapat keuntungan 10 kali lipat dari penjualan narkoba.

"Upaya penjual narkoba untuk memasarkan barang haramnya ini bermacam-macam. Jika pasarnya remaja, maka ditanamkan image jika tidak memakai narkoba artinya tidak gaul. Untuk kalangan yang sudah bekerja, ditawarkan bahwa narkoba bisa membuat tambah semangat bekerja atau sebagai penambah stamina. Bahkan sabu-sabu ditawarkan sebagai obat pelangsing badan," kata Sumirat.





(pah/ir)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit