detikhealth

Hal-hal yang Masih Jadi Batu Sandungan Pelaksanaan Program Nusantara Sehat

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 11/01/2017 19:03 WIB
Hal-hal yang Masih Jadi Batu Sandungan Pelaksanaan Program Nusantara SehatFoto ilustrasi: Firdaus Anwar
Jakarta, Program Nusantara Sehat (NS) yang dicanangkan Kementeruan Kesehatan sejak tahun 2015 berkontribusi pada perbaikan pelayanan kesehatan primer di di Daerah Tertinggal Perbatasan dan Kepulauan (DTPK) dan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Tapi, bukan berarti tak ada kendala dalam pelaksanaannya.

Seperti diungkapkan kepala Balitbangkes Kemenkes RI dr Siswanto, MHP, DTM, selama 2 tahun, kendala yang kerap terjadi yakni bagaimana supaya tim Nusantara Sehat bisa bekerja dengan baik. Ini pastinya terkait sarana dan prasarana serta alat transportasi. Apalagi, mengingat daerah mereka ditempatkan merupakan daerah yang cukup sulit dijangkau.

"Ada yang untuk menuju ke puskesmasnya saja butuh waktu 3 hari sampai 7 hari. Ada yang memang perlu motor supaya puskesnya lebih mudah dijangkau," kata dr Sis di gedung Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (11/1/2017).

Kendala lain yang ditemukan dalam evaluasi pada program NS batch 1 dan 2 yang terdiri dari 120 orang yakni tidak adanya listrik dan internet. Sehingga, tidak semua komponen penunjang kinerja tim tersedia di daerah mereka ditempatkan.

Baca juga: 2 Tahun Berjalan, Ini Capaian yang Diraih Tim Nusantara Sehat

dr Sis melanjutkan kendala lain yang masih dialami tim NS adalah bagaimana mengelola pembiayaan yang disediakan sehingga mereka bisa mengeksekusi plan of action atau POA yang sudah dibuat sebelumnya. Lantas, bagaimana dengan masyarakat setempat, apakah ada kendala dari mereka?

"Nggak ada kendala. Mereka sangat welcome, terutama di Papua terlihat sekali awalnya masyarakat yang hanya sedikit berobat ke puskesmas, jadi lebih banyak yang datang," kata dr Sis.

Ia mengatakan, justru ada kendala dalam mengintegrasikan tim NS dengan tenaga kesehatan (nakes) yang sudah ada di puskesmas setempat, yang notabene adalah tenaga kesehatan lama. Dalam artian, tim NS bisa dianggap sebagai tenaga kesehatan baru dengan honor yang lebih tinggi.

"Bagaimana mengatasinya? Kita harus buat seni integrasi bahwa perlu dilihat NS ini untuk mengisi kekurangan nakes sehingga dengan nakes yang ada sebelumnya, harus menjadi satu kesatuan," kata dr Sis.

Baca juga: Seleksi Ketat Nusantara Sehat, Kemenkes: Yang Terpilih Pasti Nggak Cengeng(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close