detikhealth

Artikel 18+

Pasutri Ogah-ogahan Bercinta? Mungkin Ini Sebabnya

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Sabtu, 29/03/2014 11:02 WIB
Pasutri Ogah-ogahan Bercinta? Mungkin Ini SebabnyaIlustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Banyak pakar sepakat kualitas dan kuantitas seks pasangan yang telah menikah biasanya makin lama makin menurun. Bahkan sebuah studi dari University of Chicago menyatakan frekuensi seks pasutri menurun hingga 700 persen, tak peduli jika mereka mengaku masih saling mencintai.

Mengapa bisa begitu? Mungkin sejumlah alasan ini bisa menjelaskan mengapa pasangan menikah kerap mengalami penurunan aktivitas intim, seperti halnya dikutip dari Askmen, Sabtu (29/3/2014) berikut ini.

1. Kebiasaan
Rata-rata 20 persen pasangan menikah mengaku bercinta kurang dari 10 kali dalam setahun. Apalagi bila ini sudah jadi rutinitas maka frekuensinya pun juga takkan meningkat.

Padahal seorang pakar seksologi bernama Carol Queen memperingatkan, "Bagi kebanyakan orang, bila aktivitas intimnya berkurang (karena jadi rutinitas), sulit bagi mereka untuk membangkitkan motivasi kembali. Tak peduli karena ada anak, jadwal kerja yang padat, sakit, atau hal lain."

2. Disfungsi ereksi
52 Persen pria berusia di atas 40 tahun mengaku sulit mendapatkan atau mempertahankan ereksinya. Faktornya beragam, mulai dari pekerjaan yang menumpuk, stres berlebihan hingga terserang penyakit seperti diabetes.

"Padahal banyak pria yang tidak memahami jika sebenarnya respons seksualnya akan berubah seiring dengan pertambahan usia sehingga mereka butuh stimulasi atau rangsangan yang lebih to-the-point ketimbang ketika mereka masih muda," terang Queen.

Penulis buku Exhibitionism for the Shy ini juga menyarankan untuk mengurangi minum Viagra, dan beralih ke olahraga, makan makanan sehat, tidak minum-minum atau mengonsumsi obat terlalu banyak, dan berhenti merokok.

3. Menopause
60 persen perceraian diinisiasi oleh para wanita yang memasuki masa menopause. Rata-rata mereka tak bahagia dengan penambahan berat badan atau perubahan bentuk tubuh akibat penurunan kadar hormon mereka.

"Faktor utamanya sama, hidup sedenter, kebiasaan merokok, mengonsumsi obat-obatan dan makanan berlemak. Ini semua berperan nyata dalam menghambat sirkulasi darah dan mengurangi kemampuan seseorang untuk mudah terangsang," jelas Queen.

4. Pasangan tak menarik lagi
Pasangan menikah yang mengklaim hal ini sebagai pemicu rendahnya frekuensi seks mereka jumlahnya mencapai 43 persen.

"Hubungan itu sebenarnya juga didasari pada komitmen kita terhadap kesehatan. Jadi jika Anda menikahi seseorang yang tidak memiliki komitmen yang sama, maka wajar jika hal itu terjadi. Bahkan sebenarnya bukan hanya kehidupan seks Anda saja yang akan menderita," tutur Wendy Strgar, penulis buku Love That Works: A Guide to Enduring Intimacy.

5. Perbedaan pandangan soal seks
Queen mengungkapkan ketidakcocokan pandangan soal seks, misal teknik, frekuensi, ingin menggunakan mainan seks atau tidak, atau suka mencoba variasi posisi baru atau tidak dapat menjadi sumber ketidakpuasan dalam kehidupan seksual.

Pada akhirnya perbedaan pandangan ini dapat mengakibatkan tekanan satu sama lain, saling tuding dan menyalahkan, hingga amarah karena pasangan tak bisa memenuhi kebutuhannya ketika bercinta. Ujung-ujungnya, aktivitas seks pun enggan untuk dilakukan.

6. Selingkuh
Sebuah survei mengungkap 16 persen pasangan menikah justru melakukan affair atau menikung suami/istrinya. Tentu ini menurunkan tingkat keintiman dengan pasangan, karena pihak yang berselingkuh pasti lebih bersemangat ketika bercinta dengan pasangan barunya daripada dengan si suami/istri.

7. Kehamilan
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Medical Journal mengungkap hasrat seksual seorang wanita akan drop hingga sebanyak 39 persen sepanjang trimester ketiga kehamilannya.

"Banyak pasangan, terutama pasangan muda yang tengah mengandung anak pertama tidak memahami jika kehamilan akan menyebabkan masalah seperti imej tubuh, pasangan tak mudah bereaksi dengan rangsangan, atau semata perubahan hormon dalam tubuh si istri yang mempengaruhi respons seksualnya," papar pakar seksologi Carol Queen.

8. Kehadiran buah hati
Hampir sama seperti ketika masih mengandung, 30 persen wanita juga mengaku tak bisa merasakan kenikmatan bercinta di tahun pertama pasca persalinan. Menurut Queen, alasannya beragam, ada yang masih terpengaruh hormon, hingga kelelahan dan stres.

9. Bosan
Dari sebuah survei terungkap wanita tiga kali lebih sering mengatakan pernikahannya membosankan atau tidak seseru ketika awal menikah. Padahal menurut Wendy Strgar, penulis buku Love That Works: A Guide to Enduring Intimacy, hubungan akan tetap seru jika masing-masing pasangan mempertahankan identitas masing-masing.

"Rayakan perbedaan itu, termasuk untuk urusan ranjang. Toh Anda sudah menikah dan tak masalah bila Anda mencoba berbagai fantasi seks agar rumah tangga tetap langgeng," katanya.

Waspada, kebosanan juga terkadang sulit dibedakan dengan depresi. Pasalnya sebuah studi mengungkap 61 persen orang yang mengalami depresi biasanya juga melaporkan kehilangan libido. Sedangkan orang yang tidak depresi tapi kehilangan libido hanya sebanyak 27 persen.

10. Tak ada waktu luang
Wow, 80 persen pasangan menikah menyalahkan padatnya jadwal aktivitas mereka sebagai penyebab utama menurunnya frekuensi seks.

Padahal David Steinberg, penulis buku The Erotic Impulse mengatakan kuncinya hanya memprioritaskan seks, misal dengan menjadwalkannya. "Bila hal ini (memprioritaskan seks) tidak dilakukan, barulah Anda harus bertanya apa sebabnya," tegasnya.

(lil/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit