detikhealth

True Story

Mark Pollock, Atlet dengan Segudang Prestasi Meski Tubuhnya Tak Sempurna

Sharon Natalia - detikHealth
Selasa, 03/11/2015 16:31 WIB
Mark Pollock, Atlet dengan Segudang Prestasi Meski Tubuhnya Tak SempurnaFoto: CNN
Irlandia Utara , Sebagai anak kecil yang dibesarkan di daerah Irlandia Utara, Mark Pollock bermimpi untuk menjadi Superman suatu hari nanti. Seperti kisah pahlawan favorit masa kecilnya di dalam komik, aksi dan petualangan sudah menjadi bagian dan mengisi hidup Pollock, tidak terkecuali tragedi.

Dia buta, dan mengalami kecelakaan ketika ia dewasa yang menyebabkan dirinya lumpuh. Tetapi kemunduran fisik yang dialami tidak menghentikannya untuk mencapai cita-citanya yakni menjadi seorang atlet.

"Setiap kali aku memakai kostum Superman, sebagai seorang anak kecil aku tidak memiliki mata yang dapat mengeluarkan sinar x-ray. Pandanganku sangat singkat dan aku harus mengenakan kacamata besar dan tebal untuk membantuku melihat. Aku tidak dapat menanggalkan kacamataku seperti yang dilakukan oleh Clark Kent," ungkap Pollock kepada TEDxHollywood dan diktuip dari CNN, Selasa (3/11/2015).

Di usia lima tahun, Pollock kehilangan penglihatan mata kanannya. Lalu, ia harus kehilangan penglihatannya lagi ketika sebuah frisbee terbang dan mengenai mata kirinya, tepatnya ketika ia berusia delapan tahun dan 14 tahun. Sejak saat itu, Pollock diharuskan memakai retina terpisah di mata kirinya.

Baca juga: Berfungsi Jaga Kesehatan Mata, Wortel Tidak Menyembuhkan Rabun

Setelah lulus, Pollock bercita-cita menjadi seorang bankir investasi dan bekerja di London. Tetapi, ia memilih jalan hidupnya yang lain saat akan lulus di usianya yang ke-22 tahun. Selagi ia menyelesaikan studinya di Trinity College di Dublin, operasi yang dilakukan pada mata kiri Pollock gagal dan menyebabkan kedua matanya buta permanen.

"Ketika aku kehilangan penglihatan, aku merasa kehilangan identitas. Tapi kemudian aku berpikir lagi, 'Hal apa yang akan menjadi mungkin untukku?', dan kemudian aku berusaha bangkit," kata Pollock.

'Belajar untuk melakukan dan mengendalikan hal yang tidak terduga' adalah salah satu mantra yang Pollock bagikan dalam sebuah acara talkshow saat ia diundang menjadi motivator. Di dalam bukunya yang berjudul 'Making It Happen' yang ia tulis bersama dengan pembuat film, Ross Whitaker, Pollock membagikan detail pengalaman hidupnya dengan kebutaan dan pentingnya mengakui realitas dalam situasi apapun.

Beberapa bulan setelah kehilangan kedua penglihatannya, Pollock mulai mengeksplorasi kemungkinan dalam realitas baru yang ia miliki. Dia bekerja, dan melanjutkan untuk menyelesaikan gelar Master dalam studi bisnisnya. Selain itu, melalui olahraga yang ia tekuni, ia menemukan kemungkinan dalam hidupnya lagi.

"Olahraga memberi arti bagi hidupku. Bagiku bersaing berarti berusaha untuk mengejar keberhasilan dan risiko kegagalan. Tetapi tetap berada di arena dan mencoba adalah kuncinya," jelas Pollock mengungkapkan arti olahraga baginya. Kegigihan Pollock berbuah manis, ia kemudian menjadi atlet petualangan yang sukses dan daftar prestasinya pun tumbuh setiap tahun.

Pada tahun 2002, Pollock memenangkan medali perak dan perunggu untuk perlombaan mendayung di Commonwealth Games. Pada tahun berikutnya, ia mengikuti enam lomba marathon dalam tujuh hari di Gurun Gobi, China. Ia juga berpartisipasi dalam Ironman Triathlon di Swiss pada tahun 2006. Lalu pada tahun 2008 ia mencatat sejarah sebagai orang tunarungu pertama yang mengikuti balapan ke Kutub Selatan.

Setelah menyelesaikan petualangan seumur hidup yang dipompa dengan keyakinan, Pollock berencana untuk melamar kekasihnya, Simone George, seorang pengacara dari Irlandia yang ditemuinya saat belajar menari bersama-sama. Namun hanya beberapa minggu sebelum Pollock dan tunangannya bersiap-siap untuk bertukar sumpah dan menari di pernikahan, tragedi kembali menyerang Pollock.

Pada musim panas 2010, Pollock berada di Inggris dengan teman-temannya untuk menghadiri Henley Royal Regatta, yaitu acara dayung tahunan yang diadakan di Sungai Thames. Saat sedang berjalan di dalam rumah tempat ia dan teman-temannya tinggal, Pollock jatuh dari ketinggian 25 kaki dari jendela lantai dua dan mendarat di beton. Pollock mengaku tidak ingat rincian kejadian yang ia alami.

"Tengkorakku retak, aku mengalami patah punggung dan kerusakan sumsum tulang belakang membuatku lumpuh dari bagian pinggang ke bawah. Pada saat itu, orang-orang yang menemukan tubuhku tergeletak di beton berpikir bahwa aku sudah meninggal. Bahkan dokter memprediksi bahwa aku akan meninggal," lanjut Pollock mengingat-ingat kejadian yang menimpanya.

Setelah menghabiskan waktu 16 bulan di ICU, Pollock sadar betul bahwa kehidupannya sebagai orang buta dan lumpuh akan sangat menantang. Terkadang Pollock bertanya-tanya apakah sekarat akan membuatnya jadi lebih baik.

"Kenyataan yang harus aku hadapi setelah mengalami kelumpuhan bukan saja hanya tidak dapat merasakan gerakan ataupun perasaan, tetapi juga aku akan kehilangan kontrol pada kandung kemih, fungsi seksual dan harapan hidup," ungkap Pollock.

Tetapi di balik semua kejadian yang menimpanya, ada akhir yang manis menunggu. Tunangannya, Simone, memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan tinggal di sisi Pollock selama proses pemulihan.

"Aku merasa luar biasa beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang bertahan di sisiku selama masa-masa sulitku. Orang-orang yang dapat aku andalkan, orang-orang yang memang ingin berada di sisiku di sepanjang jalan, bukan mereka yang dipaksa untuk bertahan," ungkap Pollock.

Sekarang, Pollock yang sudah menginjak usia 39 tahun, mempunyai keinginan membantu pasien yang mengalami kelumpuhan untuk bisa sembuh. Bekerja sama dengan dokter dari Amerika, Rusia dan Irlandia, Pollock mengungkapkan bahwa para peneliti sudah membuat langkah yang signifikan di bidang cedera tulang belakang.

Pada tahun 2012, sebuah perusahaan berteknologi tinggi yang memproduksi robot anggota tubuh, Ekso Bionics, menghubungi Pollock dan membuatkan Pollock sepasang kaki robot untuk dirinya. Dan bulan lalu, Pollock muncul dalam sebuah berita internasional karena 'robot exoskeleton', sebuah alat eksternal pendukung tubuh Pollock saat berada dalam posisi tegak, dengan pemakaian di bawah bimbingan dokter dari University of California, Los Angeles.

Para dokter menjelaskan panggilan untuk teknologi ini adalah 'teknik stimulasi tulang belakang noninvasif yang tidak memerlukan operasi'. Hanya dengan menempatkan elektroda di sumsum tulang belakang, dokter mampu merangsang sel-sel saraf yang selamat dari cedera. Para dokter menjelaskan membangun kembali aksi potensial dari otak ke sumsum tulang belakang memungkinkan terjadinya interaksi antara subyek dan teknologi.

Teknologi yang akan tersedia untuk umum dalam beberapa tahun lagi ini akan  menjanjikan keajaiban untuk jutaan pasien lumpuh di seluruh dunia. Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Christopher & Dana Reeve Foundation, di Amerika hampir enam juta orang hidup dengan kelumpuhan.

Pollock mengikuti jejak pahlawan masa kecilnya, Christopher Reeve, yang memerankan Superman di mana ia mencoba mencari obat untuk menyembuhkan pasien yang mengalami kelumpuhan. Reeve mengalami kelumpuhan setelah terjatuh saat sedang mengendarai kuda pada tahun 1995 dan meninggal dunia pada tahun 2004.

"Jalanku untuk menuju pemulihan masih panjang, Reeves menghabiskan empat jam sehari dan empat hari dalam seminggu untuk latihan fisik," kata Pollock.

"Berjalan dengan menggunakan robot exoskeleton dan bekerja dengan para ilmuwan yang luar biasa dari seluruh dunia adahal hal menarik dan mudah. Tapi, dampak pada kehidupan sehari-hari seperti bangun di pagi hari, mandi, dan kurangnya kemandirian secara keseluruhan sangatlah sulit untuk dihadapi," lanjutnya.

Meski mengalami berbagai macam hal yang membuatnya tidak bisa melakukan semua hal sendiri, Pollock tetap tidak bisa dihentikan. Melalui yayasan pribadinya, MarkPollockTrust.org, ia berkeliling dunia sebagai motivator untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kelumpuhan.

Baca juga: Kisah Inspiratif Tony, Sempat Buta Hingga Jadi Terapis Lewat Lukisan(rdn/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close