detikhealth

Mengabdi di Pulau Terluar

Cerita dr Feby, Dokter yang Bertugas di Daerah Terpencil

Muhamad Reza Sulaiman - detikHealth
Jumat, 25/12/2015 09:01 WIB
Cerita dr Feby, Dokter yang Bertugas di Daerah TerpencilFoto: M Reza Sulaiman
Saumlaki, Puskesmas Namtabung yang terletak di Pulau Selaru, Maluku Tenggara Barat memiliki dokter tetap. Bertugas di daerah, apalagi di pulau terluar, tentunya berbeda dengan di rumah sakit kota besar.

dr Feby Diana merupakan dokter tetap di Puskesmas Namtabung. Mengabdi sejak tahun 2012, dr Feby, begitu ia biasa disapa, mengatakan memang ada banyak perbedaan antara bekerja di rumah sakit dan puskesmas pedalaman.

"Beda banget. Kalau di rumah sakit kita dokter umum kan di IGD cuma merujuk ke spesialis aja. Sementa di Puskesmas semuanya kita yang kerjakan," tutur dr Feby kepada detikHealth, seperti ditulis pada Jumat (25/12/2015).

Tak hanya soal tindakan, watak dan perilaku masyarakat yang berobat juga berbeda. Dikisahkan dr Feby, Puskesmas Namtabung pernah dikepung warga karena dianggap tidak mau menerima pasien.

dr Feby mengatakan hal ini terjadi karena kesalahpahaman. Seorang ibu dengan kehamilan berisiko meminta untuk melakukan persalinan secara normal. Padahal menurut dr Feby, puskesmas tidak memiliki kemampuan dan sumber daya untuk melakukan tersebut.

"Karena ibu ini kehamilannya berisiko, usia di bawah 20 tahun, pemeriksaan ANC (antenatal care) menunjukkan PAP-nya (pintu atas panggul) kecil. Jadi harus dirujuk ke rumah sakit kabupaten. Tapi keluarganya tidak mau," ungkap dr Feby.

Masyarakat menganggap tidak ada yang perlu dirisaukan karena hal ini lumrah terjadi. Padahal kehamilan berisiko tidak bisa diremehkan, risiko kematian mengintai ibu beserta janinnya.

Akhirnya muncullah kesalahpahaman. Masyarakat menganggap dr Feby beserta tenaga puskesmas lain tidak mau menolong. Padahal alasan dr Feby merujuk ke rumah sakit bukan karena tidak mau menolong, namun mengantisipasi persalinan yang tentunya membutuhkan peralatan dan tenaga yang lebih lengkap.

"Puskesmas waktu itu dikepung. Mereka tidak terima, dianggapnya kan ada bidan ada dokter harusnya bisa dong melahirkan. Padahal kita hanya dokter umum, sementara kehamilan berisiko ini harusnya ditangani spesialis," tambah dokter lulus Fakultas Kedokter Ukrida ini.

Setelah melalui mediasi, jalan tengah pun akhirnya ditempuh. dr Feby mau membantu persalinan, dengan catatan pasien harus menandatangani inform consent yang menyatakan pasien dan keluarga tidak menyalahkan dokter ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Proses persalinan akhirnya berjalan baik tanpa kendala. Sang ibu beserta bayi selamat, hanya saja bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Namun hal ini memang umum terjadi pada ibu yang berusia di bawah 20 tahun.

"Puji Tuhan akhirnya berhasil juga persalinannya. Berkat bantuan Yang Maha Kuasa ibu dan bayinya selamat, hanya bayi berat lahirnya agak rendah di bawah 2,5 kg," tandasnya.

Baca juga: Kisah Tim Nusantara Sehat Tangani Kasus Gawat Darurat di Hari Pertama Tugas


(mrs/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit