detikhealth

Ingin Kenalkan Apoteker ke Masyarakat, Dosen UGM Gagas Apoteker Cilik

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 21/06/2016 07:00 WIB
Ingin Kenalkan Apoteker ke Masyarakat, Dosen UGM Gagas Apoteker CilikFoto: Lila / detikHealth
Jakarta, Untuk menumbuhkan minat dan wawasan anak terhadap profesi tertentu, sekolah mengadakan program seperti dokter cilik atau polisi cilik. Biasanya program semacam ini bertujuan agar anak tak hanya mengenal seluk-beluk profesi yang dimaksud, tetapi juga termovitasi dan meneladani mereka.

Harapan yang sama dilontarkan Zullies Ikawati, dosen Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dibantu dua rekannya, Triana Hetriani dan Agung Endro Nugroho, mereka pun menggagas program apoteker cilik, yang dimulai di dua sekolah dasar di Yogyakarta.

"Kita sering merasakan, sekaligus introspeksi, kalau masyarakat datang ke apotek tidak nyari apotekernya. Padahal peran apoteker penting sebagai ahli obat," kata Zullies ketika ditemui detikHealth baru-baru ini.

Namun Zullies menggunakan cara yang tak biasa untuk mengenalkan apoteker, yaitu dengan mencetuskan program 'Apoteker Cilik'. Dosen farmakologi ini ingin masyarakat mengenal apoteker sejak dini, sebagai bagian dari tenaga kesehatan, di samping dokter, bidan, perawat, ahli gizi, dan seterusnya.

Baca juga: Samai Dokter, Apoteker Kini Praktik Pakai Jas dan Papan Nama

Lantas mengapa anak-anak? Zullies mengaku punya alasan khusus. Menurutnya, anak-anak lebih bisa menerima informasi yang disampaikan secara ringan, dan mereka mudah menjadi agen informasi bagi teman-temannya.

"Bahkan kalau di anak-anak, informasi ringan itu bisa melekat sampai dia dewasa. Anak itu kan kalau dicritain sama temennya atau temennya punya mainan atau sesuatu baru banyak yang suka ikut kan. Jadi kita dasarkan dari situ," jelasnya.



Zullies menambahkan, pelatihan apoteker cilik ini akan menggunakan model 'training for trainer'. Pelatihan diberikan oleh mahasiswa Farmasi UGM yang tergabung dalam PIOGAMA (Pusat Informasi Obat Gadjah Mada), lembaga di bawah Fakultas Farmasi UGM yang berperan dalam pemberian edukasi tentang obat.

"Targetnya kita memperkenalkan tentang obat, makanan atau jajanan sehat yang seperti apa, pengenalan obat tradisional yang levelnya sederhana. Basic-nya juga game (permainan)," timpal rekan Zullies, Triana.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat berbentuk ekstrakurikuler, yang sifatnya optional, artinya anak bisa memilih atau tidak dipaksa keikutsertaannya. Sebagai percobaan, Zullies dan rekan-rekannya memilih dua sekolah dasar di Yogyakarta, SD Negeri Kentungan dan SDIT Lukmanul Hakim.

Baca juga: Jangan Asal Pilih, Beli Obat di Apotek yang Apotekernya 'Terlihat'

Lalu tidakkah anak-anak sulit memahami istilah yang digunakan dalam ilmu farmasi? "Kita masih evaluasi terus ya. Tapi kalau saya lihat, anak-anak nggak terlalu yang detail-detail karena mereka lebih tertarik ke cara penyampaian. Mungkin nanti kami juga akan melatih trainer-nya supaya bisa menyampaikan istilah dengan bahasa yang lebih sederhana," tambahnya.

Untuk alat bantu pelatihan, Zullies dan rekan-rekannya juga menciptakan semacam kit berisi komik apoteker cilik, flash card untuk permainan mengenal istilah obat dan boneka ikon, yakni JEKSI (berbentuk injeksi), TABBY (berbentuk tablet) dan KAPSI (berbentuk kapsul).

"Komiknya terinspirasi dari majalah sains. Yang gambar juga mahasiswa sendiri. Tapi karena permintaannya banyak, alhamdulillah ada penerbit yang mau membantu dan nantinya ilustrasinya akan diperbaiki," pungkasnya.

Ditambahkan Zullies, program pelatihan berhasil berjalan selama bulan Agustus-November 2015, dan akan ada tahap kedua yang sedianya dimulai tahun ini. Dan selama berlangsungnya program, Zullies menyadari bahwa kendala terbesar yang dihadapinya adalah mencocokkan jadwal akademik antara mahasiswa dengan siswa SD yang menjadi target program.(lll/vit)


 
Foto Terkait

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close