detikhealth

Memahami Alasan Mirip Tidaknya Anak dengan Orang Tua

Nurvita Indarini - detikHealth
Kamis, 15/09/2016 10:33 WIB
Halaman 1 dari 2
Memahami Alasan Mirip Tidaknya Anak dengan Orang TuaFoto: Thinkstock
Jakarta, Ketika menengok seseorang yang baru melahirkan, komentar yang biasa didengar adalah terkait kemiripan wajah si kecil dengan salah satu orang tuanya. Meskipun memang terkadang bisa jadi anak tidak mirip sama sekali dengan ayah maupun ibunya. Sebaliknya ada pula fenomena orang yang sangat mirip meskipun tidak berasal dari keluarga yang sama.

Jika orang tua memiliki hidung mancung, biasanya anaknya juga akan mewarisi bentuk hidung serupa.Soal kaitan genetika dengan bentuk hidung, ini antara lain terungkap dari studi ahli biologi Andres Ruiz-Linares dari University College London.

Ilustrasi hidung (Foto: Thinkstock)

Setelah meneliti data genetik dari sekitar 6.000 orang ditemukan ada tiga gen pertumbuhan tulang dan tulang rawan yang tampaknya dominan membentuk hidung. Dua gen bernama GLI3 dan PAX1 disebut punya efek dalam menentukan besar lubang hidung. Sementara gen bernama DCH2 mengendalikan lancipnya hidung.

Lebat tidaknya rambut tubuh seseorang juga bisa ditentukan oleh faktor genetika. Jadi orang tua yang memiliki rambut tubuh lebat, biasanya hal yang sama akan menurun pada anaknya.

"Jadi ketika ada orang yang mempunyai bulu lebat, itu bisa saja keluarganya atau ayahnya mempunyai bulu yang lebat pula, makanya faktor genetik ini juga sangat mempengaruhi," ujar dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK, kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Meski demikian, bisa jadi ada ketidakmiripan soal kelebatan rambut tubuh. Sebab lebat tidaknya rambut juga turut dipengaruhi oleh hormon.

Baca juga: Mancung atau Pesek, Begini Cara Genetik Tentukan Bentuk Hidung

Kemiripan orang tua dan anak sering kali juga dilihat dari warna gigi. Sehingga mungkin Anda pernah mendengar kalimat semacam, "Wah giginya putih ya seperti gigi ibunya". Sebab warna gigi bisa juga dipengaruhi oleh faktor keturunan dan juga ras atau etnik.

Umumnya tinggi badan anak juga merupakan pewarisan dari orang tuanya. Akan tetapi jika orang tua termasuk pendek, lalu memiliki anak tinggi, bukan berarti anak itu bukan anak kandungnya. Ketidakmiripan tinggi badan bisa terjadi.


Prof Dr Ir H Hardinsyah Ridwan, MS, guru besar Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor mengatakan panjang pendek tulang bisa ditentukan sejak di dalam rahim. Jika pertumbuhan tulang anak optimal tentu anak bisa tumbuh dengan tinggi badan optimal. Karena itu ibu hamil dianjurkan mengonsumsi vitamin D dan kalsium yang cukup. Dalam pertumbuhan anak, faktor fenotip atau faktor lingkungan turut berpengaruh.

Next

Halaman 1 2
(vit/mrs)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit