detikhealth

Doctor's Life

'Keasyikan' Mengabdi, dr Agus Tak Pulang-pulang dari Maluku

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 16/11/2016 12:37 WIB
Keasyikan Mengabdi, dr Agus Tak Pulang-pulang dari MalukuFoto: Rahma Lillahi S
Surabaya, Bisa dibilang waktunya habis di jalan untuk mengabdi kepada masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis. Bahkan konon menurut koleganya, dokter ini tak mau pulang karena 'keasyikan' mengabdi di pelosok.

Adalah dr Agus Hariyanto, SpB. Pria kelahiran Jember ini baru tahu jika tenaganya sangat dibutuhkan di daerah terpencil maupun perbatasan, begitu menyelesaikan pendidikan spesialis bedah dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Awalnya ketika menjadi dokter umum, ia memang sempat bertugas di RS Tulehu, Ambon. Ketika pendidikan spesialisnya rampung, ia pun iseng 'pulang kampung' ke Ambon. Ia kemudian mengikuti perjalanan bersama tim dari rumah sakitnya ke sebuah desa di Pulau Seram.

Saat itu ia bersama tim beranggotakan 12 orang, yang terdiri atas dokter bedah umum, dokter spesialis mata, dokter umum, dokter gigi dan perawat menaiki speedboat sewaan untuk mencapai desa yang tergolong terpencil tersebut.

"Tidak tahunya banyak sekali, sampai hampir 30 kasus saya operasi di sana. Lalu aku pikir, ini di tempat lain pasti lebih banyak," kisahnya kepada detikHealth usai Simposium Adventure and Remote Medicine di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Selasa (15/11/2016).

Dari situ ia dan rekan-rekannya berinisiatif untuk melanjutkan program tersebut dengan nama 'Sailing Medical Service'. "Inspirasinya dari Flying Medical Service yang di Australia. Kalau di kita kan pakai kapal jadinya sailing," lanjutnya.

Baca juga: Dr Lie Dharmawan & Perjuangan Bangun RS Apung Swasta Pertama Indonesia

Dalam pelayaran perdana tersebut, dr Agus dan timnya berhasil merampungkan tindakan operasi hernia (22), hydrocele (1), tumor jinak (26) dan katarak (19).

Suatu ketika timnya beruntung memperoleh santunan sebesar Rp 350 juta. Mereka lantas menyewa sebuah kapal yang lebih besar dan berlayar selama dua bulanan di pulau-pulau kecil di seputaran Maluku. "Awalnya kita hanya menjajaki 4 lokasi, tetapi kemudian kita melebar hingga ke 28 lokasi," lanjutnya.

Saat itu, total pasien yang berhasil ditangani mencapai 4.504 orang, dengan total operasi sebanyak 139 kasus; hernia (26), hydrocele (5), cheilorrhaphy (1), varicocele (5) dan tumor jinak (102). "Padahal biayanya hanya Rp 350 juta. Bayangkan kalau kita bisa mendapatkan lebih," imbuhnya.

Ia pun mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi di pelosok dengan menyebut sebuah pulau kecil bernama Pulau Liran sebagai contoh. Layanan kesehatan terdekat dari pulau ini adalah di Dili, Timor Timur. "Di Timor Timur ini kan layanan kesehatannya menyedihkan, tetapi mereka semua larinya kesini," urainya.

dr Agus sendiri sempat merasa 'bosan' karena tak ada pihak yang tergerak untuk memberinya dukungan. Hingga kemudian ia bertemu dengan sesama alumni FK Unair untuk sebuah sesi wawancara untuk majalah yang dikelola alumni.

Ternyata gayung bersambut, hingga kemudian tercetus ide untuk merealisasikan rumah sakit terapung FK Unair. Proyek ini diakui dr Agus sudah dirintisnya sejak dua-tiga tahun lalu tetapi beberapa kali urung karena satu dan lain hal. Tetapi pertemuan dengan teman-teman sesama alumni telah membangkitkan mimpinya kembali.

Ia menambahkan, rumah sakit terapung rintisan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga rencananya rampung pada bulan Februari 2017.

Baca juga: Selain Kepulauan Seribu, RS Apung Juga Layani Belitung Timur dan Kalbar(lll/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit