detikhealth

Hari AIDS Sedunia

Kisah Pengidap HIV yang Berjuang Selamatkan Teman-teman Senasib

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 02/12/2016 12:37 WIB
Kisah Pengidap HIV yang Berjuang Selamatkan Teman-teman SenasibFoto: reza
Surabaya, Masa muda DP dihabiskan untuk bersenang-senang, dimulai dari mengonsumsi napza suntik, tepatnya sejak tahun 1997 dan melakoni seks bebas. Akan tetapi ia tidak pernah menyangka jika ini akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Pria asli Surabaya ini mengisahkan dirinya ketahuan mengidap HIV saat jatuh sakit di tahun 2006 dan dirawat di rumah sakit. Oleh dokter, ia didiagnosis dengan pneumonia atau radang paru-paru.

"Namanya orang sakit kan tiap hari diambil sampel darahnya untuk dilihat perkembangan penyakitnya sejauh mana, obatnya efektif atau nggak. Nah di hari ketujuh itu diketahui ada yang asing (di tubuhnya, red)" kisah DP kepada detikHealth usai acara puncak perayaan Hari AIDS Sedunia 2016 di Surabaya, Kamis (1/12/2016).

'Sesuatu yang asing' itu tak lain adalah HIV, dan DP pun dipindahkan dari bangsalnya ke bangsal khusus pengidap HIV.

"Tetapi penyebab pastinya saya juga bingung mbak, karena saya pengguna narkoba suntik aktif, berhenti tahun 2004. Tapi tidak menutup kemungkinan karena aktivitas seksual saya yang kurang aman," lanjutnya.

Begitu didiagnosis, DP merasa sedih dan putus asa, begitu juga dengan keluarganya. Namun kini DP memaklumi hal itu karena sebenarnya ini semata berpangkal pada kurangnya informasi tentang HIV-AIDS di lingkungannya.

"Waktu itu (tahun 2006, red) nggak ada informasi sama sekali tentang HIV, jadi orang tua kebingungan trus menyiapkan tempat peristirahat untuk saya. Sampai sekarang masih ada, mau lihat?" kelakarnya.

Baca juga: Sempat Dikucilkan Keluarga, Begini Kisah Ibu Ini Lawan HIV

Setelah dipastikan mengidap HIV, DP pun diberi resep obat berupa kotrimoksazol. Namun di sela-sela mengonsumsi obat ini, hasil pemeriksaan sel T keluar dan menunjukkan bahwa sel imunnya itu sangat minim, hanya tinggal 1 saja.

"Dokter sampai kaget. Usia saya juga udah diprediksi tinggal 2 minggu lagi. Sejak saat itu saya diharuskan minum ARV juga, ditunjang dengan kotrimoksazolnya," imbuhnya.

Namun belajar dari keadaannya saat itu, DP bertekad untuk tidak menyerah begitu saja. Motivasinya justru datang dari rasa iba terhadap teman-teman sebayanya yang sama-sama pemakai narkoba suntik.

"Karena saya suka baca buku, jadi selama dirawat selama 1 bulan 10 hari itu saya habiskan lembar informasi terkait HIV dari WHO, Spiritia itu, yang tebel sampai khatam. Ketika keluar perawatan, saya langsung cari temen-temen yang senasib," ungkapnya.

Awalnya, DP hanya merangkul teman-teman sesama pengguna narkoba suntik. Namun makin kesini, ia meluaskan jangkauan kampanyenya, mulai dari penjual seks, gay, ibu rumah tangga hingga pelajar.

"Yang paling antusias itu ibu rumah tangga sama pelajar. Kita kan ada pertemuan bulanan kayak FGD gitu di puskesmas, mereka suka nagih, Om kapan pertemuan lagi," urainya.

Akan tetapi ketika mencoba memberikan informasi ke keluarganya sendiri, DP memilih tak banyak omong. Ia hanya meletakkan buku berisi informasi tentang HIV tersebut di meja dekat tempat tidurnya saat dirawat. "Biar mereka baca sendiri, dan ternyata itu efektif. Karena latar belakang keluargaku itu sebenernya berpendidikan. Penerimaannya juga jadi lebih cepet," tambahnya.

DP bersyukur hingga saat ini tak pernah merasakan stigma, sebab di lingkungannya juga banyak yang meninggal akibat HIV-AIDS. "Jadi yang di kampung itu 20 orang teman saya, tinggal aku sama temenku. Lainnya udah mati semua, dan mereka sakit tanpa diketahui penyakitnya apa," katanya.

Ia mengaku terharu saat memberikan informasi tentang HIV di lingkungannya. Saat itu ia menggunakan forum pengajian yang digelar ibu-ibu PKK setempat. Kebetulan anggotanya juga merupakan ibu dan teman dari rekan-rekannya yang berpulang terlebih dahulu.

"Jadi ketika saya cerita masalah HIV di depan mereka, mereka malah tangis-tangisan. Saya langsung dirangkul, ternyata anakku ini mungkin dulu seperti kamu tapi nggak sekuat kamu," kisahnya menirukan ucapan ibu-ibu tersebut.

Di akhir perbincangan, DP berpesan kepada mereka yang belum 'bertaubat' untuk mengubah perilakunya. "Kalau nggak bisa berubah, ya dikit-dikit lah. Inget sama keluarga, jangan pulang ke rumah kita bawa 'oleh-oleh' itu," pesannya.

DP pun bangga karena istrinya terbebas dari HIV, begitu juga dengan anak-anak mereka. "Condom use dong," tutupnya.

Baca juga: Menkes Ajak Perangi HIV-AIDS Tanpa Diskriminasikan ODHA


(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit