detikhealth

Hari AIDS Sedunia

Begini Cara KPA Jatim Atasi Tingginya Kasus AIDS pada Ibu Rumah Tangga

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Jumat, 02/12/2016 15:40 WIB
Begini Cara KPA Jatim Atasi Tingginya Kasus AIDS pada Ibu Rumah TanggaFoto: AN Uyung Pramudiarja
Surabaya, Berdasarkan data nasional, jumlah kasus AIDS (Acquired Imunodeficiency Syndrome) yang dilaporkan tertinggi terjadi pada ibu rumah tangga, dengan angka mencapai 10.626 kasus. Rupanya gambaran ini tak jauh berbeda dengan di Jawa Timur.

Dari jumlah kasus, ibu rumah tangga merupakan pasien AIDS terbanyak kedua di provinsi ini, dengan jumlah mencapai 2.000 lebih. Angka ini jauh lebih banyak dari jumlah pasien AIDS dari pekerja seks yang hanya berjumlah 1.046 kasus.

"Pertanyaannya mengapa? Ternyata banyak suami yang jajan. Ya kalau ke sini, dia menggunakan kondom, tapi kalau dengan istri enggak sehingga yang tertular adalah istrinya," jelas Otto Bambang Wahyudi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Timur kepada detikHealth.

Untuk tahun ini (data sampai September 2016), jumlah kasus AIDS yang ditemukan di Jawa Timur secara kumulatif mencapai 16.515 atau lebih tinggi dari tahun kemarin yang hanya 15.603 kasus.

"Ini kelihatan naik, tapi setiap tahun terjadi penurunan kurang lebih 30-40 persen, dan jumlah penderita barunya diperkirakan hanya 1.100. Ini kecil lho karena dibagi 38 kabupaten/kota di Jatim," lanjutnya saat ditemui usai acara puncak perayaan Hari AIDS Sedunia 2016 di Surabaya, Kamis (1/12/2016).

Lantas di mana daerah dengan jumlah kasus AIDS tertinggi di Jawa Timur? Otto menyebut Surabaya menduduki peringkat pertama dengan lebih dari 7.000 kasus, disusul Malang (3.000 lebih) dan Sidoarjo (1.788 kasus).

Baca juga: Ini Sebabnya Belum Banyak Pengidap HIV yang Terima Obat ARV

Otto menambahkan, selain pergeseran tren pasien, ia juga mengungkapkan adanya perbedaan metode penanganan bila pasien HIV baru ditemukan. Dulunya, setelah dinyatakan HIV positif, seseorang yang terinfeksi virus itu akan dicek CD4-nya terlebih dahulu, baru kemudian ditentukan apakah harus diobati atau tidak. Ketentuannya adalah bilamana CD4 yang bersangkutan telah berada di atas angka 350.

"Tapi sekarang nggak. Kita periksa, kita temukan, begitu positif, tanpa melihat CD4-nya langsung diobati. Ini untuk mencegah jangan sampai dari HIV itu jadi AIDS," urainya sekaligus menjelaskan makna strategi TOP (Temukan, Obati dan Pertahankan) yang dicanangkan Kementerian Kesehatan.

Meski demikian, disadari Otto bahwa timnya juga menemui kendala untuk mengentaskan kasus HIV/AIDS di wilayah kerjanya. Pertama, karena masih adanya stigma bahwa penyakit ini dapat menular melalui sentuhan atau kontak kulit.

Kedua, kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes. "Makanya kita yang aktif datang ke mereka dengan mobile VCT, terutama ke populasi kunci seperti pekerja seks, waria, pengguna napza suntik, pelaut maupun sopir," urainya.

Karena kasus tertinggi pada ibu rumah tangga, maka mereka juga diajak berperan aktif dalam menurunkan jumlah kasus AIDS di Jawa Timur. Dengan memanfaatkan temu PKK atau posyandu, KPA mencoba melakukan pendekatan pada ibu-ibu rumah tangga. "Mereka kita berikan pelatihan sehingga meningkatkan surveillance atau pengawasan dini terhadap suami," imbuhnya.

Tidak itu saja. Menurut Otto, di semua desa yang ada di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur juga telah terbentuk paguyuban Warga Peduli AIDS. "Ini memudahkan kita untuk menjangkau mereka yang terinfeksi HIV lalu merujuk ke layanan kesehatan yang ditunjuk," pungkasnya.

Baca juga: Diapresiasi sebagai RS Peduli HIV/AIDS, Begini Inovasi RSAL Dr Ramelan(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit