detikhealth

Kaleidoskop 2016

Februari: WHO Tetapkan Wabah Zika Keadaan Darurat Global

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 20/12/2016 10:37 WIB
Februari: WHO Tetapkan Wabah Zika Keadaan Darurat GlobalFoto: Reuters
Jakarta, Wabahnya mulai merebak per April 2015 silam, namun karena kian masif, WHO akhirnya merespons dengan mengeluarkan pernyataan bahwa dunia dalam keadaan darurat karena virus Zika pada bulan Februari lalu.

Pernyataan itu resmi dilontarkan oleh WHO tepat pada tanggal 2 Februari 2016. Artinya, keberadaan virus Zika telah menjadi perhatian atau kekhawatiran internasional. Fakta ini diperkuat dengan temuan WHO saat itu di mana infeksi virus Zika telah menyebar di 25 negara, dan tidak hanya di seputaran Amerika Latin.

Tak hanya itu, jumlah kasus mikrosefali (bayi lahir dengan kepala kecil) dan kelumpuhan langka yang disebut sindrom Guillain-Barre tercatat meningkat seiring dengan merebaknya virus ini, walaupun baru sebatas dugaan.

Bersamaan dengan peningkatan status ini, WHO meminta agar ibu hamil atau pasangan yang berencana memiliki keturunan tidak bepergian ke negara-negara yang telah terdampak virus Zika, termasuk melindungi diri dari gigitan nyamuk.

Sejumlah negara seperti AS juga sudah mengeluarkan travel advisory (anjuran untuk mempertimbangkan ulang rencana bepergian) ke sejumlah negara di mana dilaporkan terjadi infeksi virus Zika. Total ada 15 negara yang dimasukkan CDC ke dalam daftar travel advisory ini, yaitu Brazil, Kolombia, El Salvador, Meksiko, Puerto Rico, Panama, Paraguay, Suriname, Venezuela, French Guiyana, Guatemala, Barbados, Bolivia, Ekuador, Haiti, Honduras, Martinique, Guadeloupe, Saint Martin, Guyana, Cape Verde, dan Samoa.
Februari: WHO Tetapkan Wabah Zika Keadaan Darurat GlobalFoto: Thinkstock

Sehari kemudian, Kemenkes juga mengeluarkan travel advisory ke negara yang sedang mengalami KLB (Kejadian Luar Biasa) infeksi virus Zika serta negara dengan status transmisi aktif saat itu di antaranya Brazil, Cape Verde, Colombia, El Savador, Honduras, Martinique, Panama, Suriname (negara dengan KLB); Barbados, Bolivia, Curacao, The Dominican Republic, Ecuador, Fiji, French Guiana, Guadalope, Guatemala, Guyana, Haiti, Meksiko, New Caledonia, Nicaragua, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Samoa, Tonga, Thailand, US Virgin Islands, dan Venezuela (negara dengan status transmisi aktif).

"Jika terpaksa harus melakukan perjalanan ke negara tersebut, hendaknya melakukan tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk secara ketat," kata Menkes Nila F Moeloek, dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan.

Bagi yang baru kembali dari negara dengan KLB virus Zika, Menkes meminta agar kondisi kesehatannya diperiksakan dalam kurun 14 hari setelah tiba di Indonesia.

Namun karena dampak Zika terhadap risiko mikrosefali baru sebatas dugaan, WHO hanya mendorong agar seluruh negara di dunia untuk meningkatkan fungsi pengawasan agar jelas pola hubungan penyakitnya. Indonesia sendiri dilaporkan belum melakukan pengawasan menyeluruh untuk Zika karena belum ada kasus definitif yang bisa dijadikan latar belakang.

Seperti diberitakan detikHealth sebelumnya, dr Erni Juwita Nelwan, SpPD-KTPI, FINASIM dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo juga menegaskan, hubungan antara Zika dan mikrosefali masih berdasarkan bukti lapangan, belum diteliti lebih jauh. Di samping jumlah kasusnya dianggap masih sedikit.
Februari: WHO Tetapkan Wabah Zika Keadaan Darurat GlobalFoto: BBC World

Baca juga: WHO: Dunia dalam Keadaan Darurat Karena Virus Zika

Para pakar kesehatan di Indonesia pun meminta masyarakat tak perlu cemas. Salah satunya staf epidemiologi WHO Indonesia, dr Marlinggom Silitonga, MEpid. "Virus Zikanya sendiri termasuk ringan. Enggak perlu diobatin nanti juga akan sembuh sendiri jadi enggak perlu takut. Mortalitasnya sejauh ini nol persen," katanya saat itu.

Masyarakat hanya perlu trus melakukan usaha pengendalian DBD dengan pemberantasan sarang nyamuk. Sebab menurut direktur Lembaga Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio, Zika dan DBD berasal dari satu keluarga sehingga memiliki banyak kemiripan, bahkan hingga ke tingkat struktur virusnya.

"Buat Indonesia ini belum menjadi masalah nasional tetapi tak berarti kita boleh lengah. Tetap waspada lakukan sama seperti yang kita lakukan untuk DBD. Kendalikan virus dengue, kendalikan vektor dengue, insyaallah Zika juga akan terkendali," pesannya.

Baca juga: Negara-negara Ini Masuk dalam Travel Advisory Menkes Terkait Zika(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close