detikhealth

Kaleidoskop 2016

Maret: Pesan Menkes Terkait Menonton Fenomena Gerhana Matahari

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 21/12/2016 11:43 WIB
Maret: Pesan Menkes Terkait Menonton Fenomena Gerhana MatahariFoto: Hasan Al Habshy
Jakarta, Sembilan Maret lalu, Indonesia termasuk salah satu negara yang beruntung bisa menyaksikan fenomena alam berupa gerhana matahari total (GMT). Namun fenomena ini tak dapat disaksikan secara sembarangan, sebab bisa membahayakan kesehatan mata.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menganjurkan agar tidak menatap ke arah matahari secara langsung saat fenomena itu berlangsung. "Cukup lihat pantulannya saja, atau gunakan kacamata yang benar-benar antiultraviolet (UV)," pesannya seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Menkes Nila beralasan, pada saat menatap matahari langsung, pupil mata akan membesar dan sinar UV masuk melalui dinding retina atau macula. Hal ini bisa memicu kerusakan pada retina mata, bahkan kebutaan.
Maret: Pesan Menkes Terkait Menonton Fenomena Gerhana MatahariFoto: Hasan Al Habshy

Baca juga: Jelang Gerhana Matahari, Ini Pesan Menkes Nila Terkait Kesehatan Mata

Meski demikian pakar astronomi dari Langit Selatan, Avivah Yamani mengatakan, filter atau kacamata anti-UV tidak dibutuhkan pada saat memasuki fase gerhana total, lantaran situasinya gelap. Namun begitu bulan mulai meninggalkan matahari, filter ini harus segera dipakai kembali.

Kondisinya berbeda dengan ketika menyaksikan gerhana matahari cincin, yang masih menyisakan sebagian sinar matahari sehingga filter harus selalu digunakan sepanjang terjadinya kontak antara bulan dan matahari.

Terkait dengan hal ini, Menkes Nila mengatakan, meski teorinya suasana gelap di saat gerhana matahari total terjadi, namun ia tetap menyarankan agar masyarakat memakai kacamata sebagai pelindung. Ia khawatir masih ada sinar yang lolos kemudian merusak mata.

"Lebih baik kita cegah deh. Negara kita ini kan lubang ozonnya cukup besar, jadi sinar UV itu enggak ada lagi penahannya. Jadi takutnya tetap akan banyak (sinar yang lolos -red). Kalau saya sih mengimbau, tapi kalau enggak mau juga terus terjadi ya kita sudah beritahu," lanjutnya.
Gerhana matahari di Belitung (Foto: detikCom)Gerhana matahari di Belitung (Foto: Anggoro Suryo Jati/detikINET)
Nila yang seorang profesor di bidang kesehatan mata itu juga meminta untuk tidak asal menggunakan kacamata hitam sebab tidak semua kacamata hitam dilengkapi dengan antiultraviolet.

"Kacamata UV paling aman tapi agak mahal. Hati-hati ya dengan kacamata cengdem itu," kata Nila.

GMT ini hanya dapat disaksikan secara langsung di beberapa daerah di Indonesia, di antaranya Bangka Belitung, Palembang, Balikpapan, Palu, Ternate dan Maba Halmahera Timur.

Untuk masyarakat di wilayah lain yang dilewati gerhana matahari sebagian, kacamata anti-UV tetap harus dipakai sepanjang terjadinya fenomena tersebut.

Baca juga: Peta Endemisitas Malaria di Lintasan Gerhana Matahari Total(lll/up)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit