detikhealth

Konsultasi Laktasi
dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC

Dokter Laktasi dan Ibu Menyusui di RS Permata Depok
Ketua Tim Laktasi RS Permata Depok
Koordinator Pelatihan Manajemen Laktasi Perinasia Pusat

Kelelahan Bekerja Bisa Mengurangi Produksi ASI?

Suherni Sulaeman - detikHealth
Sabtu, 31/12/2016 10:05 WIB
Kelelahan Bekerja Bisa Mengurangi Produksi ASI?Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta, Dok, saya ibu menyusui dan masih aktif bekerja. Saya memiliki anak bayi perempuan usia kini 5 bulan. Awal-awal masuk kerja setelah cuti selama 3 bulan, produksi ASI saya masih banyak. Saya pun rajin mengonsumsi sayur hijau dan daun katuk tiap pagi, namun setelah usia anak menginjak 5 bulan air susu saya jadi berkurang.

Saya pun mulai memberi anak susu formula. Selain itu, saya disarankan oleh teman sekantor untuk meminum semacam teh pelancar ASI yang mengandung bahan fenugreek. Namun setelah meminum teh tersebut terkadang timbul rasa pusing dan setelah cek tekanan darah saya menurun. Apakah faktor kelelahan mempengaruhi produksi ASI? atau apakah minuman tambahan tersebut yang malah mempengaruhi produksi ASI?

Sekar (Wanita, 25 tahun)

Jawaban

Wah, hebat sekali Ibu masih menyusui anak Ibu walaupun Ibu bekerja. Menyusui sambil bekerja memang mempunyai tantangan tersendiri. Yang pertama adalah bagaimana ibu bekerja dapat tetap mempertahankan produksi ASInya dan yang kedua adalah bagaimana tata laksana pemberian ASI perah (ASIP) yang tepat selama ibu bekerja, sehingga tidak menimbulkan masalah dalam menyusui dan kebutuhan anak tetap terpenuhi dengan ASI eksklusif.

Untuk masalah mempertahankan produksi ASI, ibu bekerja disarankan rutin mengosongkan payudara dengan cara memerah yang tepat. Hal ini disebabkan karena produksi ASI bersifat on demand, di mana semakin banyak dikosongkan, maka semakin banyak produksi.

Ibu boleh saja meminum ramuan atau makan makanan yang ibu percaya memperlancar ASI, tetapi jangan sampai meminum sesuatu yang membuat ibu tidak nyaman karena itu dapat berpengaruh ke terhambatnya pengeluaran ASI saat ibu memerah, di mana penyebab lain juga bisa karena kelelahan bekerja.

Oleh karena itu, memang disarankan untuk tenang dan rileks saat akan memerah ASI di kantor, bisa dengan minum air hangat, melihat foto bayi, memikirkan bayi, dan sebagainya. Bila pengeluaran ASI terhambat, dan ibu tidak dapat memerah mengosongkan payudara sampai maksimal, maka itu akan menghambat produksi ASI nantinya.

Bila ibu sudah melakukan hal tersebut dan produksi ASI dirasa masih saja berkurang, maka kami sarankan untuk segera ke klinik laktasi untuk evaluasi proses menyusui sambil bekerja, apakah memang produksi ASI ibu yang berkurang atau proses pengeluarannya saja yang terhambat karena stress pekerjaan atau kondisi kesehatan ibu, atau mungkin juga karena masalahnya terletak pada bagaimana tata laksana pemberian ASIP di rumah.

Pemberian ASIP tidak boleh menggunakan media dot karena dapat menyebabkan masalah menyusui, masalah pada ibu, maupun masalah pada bayi. Penggunaan dot atau empeng dapat menimbulkan bingung puting , yaitu keadaan di mana bayi tidak mau menyusu lagi ke payudara ibu karena mekanisme hisapan yang berbeda antara menghisap dot dan memerah payudara.

Hal ini juga yang menyebabkan produksi ASI ibu yang lambat laun akan menurun akibat tidak efektifnya hisapan bayi ke payudara setelah bayi mengenal dot. Dot juga sangat rentan kontaminasi karena karetnya yang merupakan media tumbuh kuman yang sangat baik dan karena banyaknya zat merugikan hasil reaksi plastik yang dipanaskan setiap hari, yang semakin lama semakin banyak terakumulasi dalam tubuh bayi, sehingga menurunkan daya tahan tubuh bayi dan bayi menjadi sangat rentan terkena penyakit infeksi, walaupun dot berisi ASI.

Selain itu, dot juga dapat menimbulkan masalah gigi dan maloklusi rahang, serta jauh lebih tinggi risiko tersedak dibandingkan pemberian dengan media gelas atau sendok. Anak yang telanjur mengenal dot juga akan sulit sekali disapih dari dot saat sudah beranjak besar, sehingga akan mempengaruhi sisi psikologis anak tersebut bila tidak berhasil dipisahkan dari dot saat berusia 2 ahun, terlebih lagi jika sampai melewati batas 3 tahun. Hal tersebut akan mempengaruhi kemandirian sang anak di masa depan dan juga dalam hal mengambil keputusan.

Pemberian susu formula juga tidak kami sarankan karena memiliki banyak kerugian. Ketika Ibu memberi susu formula pada bayi Ibu, Ibu meningkatkan peluang bayi mengalami alergi, asma, infeksi telinga, infeksi pernapasan, gangguan pencernaan, gangguan jantung dan pembuluh darah, obesitas, diabetes, anemia defisiensi besi, kanker anak, gangguan tidur, kematian bayi mendadak, masalah gigi dan maloklusi, gangguan perilaku, IQ dan perkembangan kognitif yang lebih rendah, autisme, serta paparan kontaminan lingkungan.

ketika Ibu tidak menyusui, Ibu makin berpeluang untuk mengalami diabetes, obesitas, hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, osteoporosis, kanker payudara/ indung telur/ rahim, dan Alzheimer. Semua yang telah disebutkan telah dibuktikan melalui penelitian yang diakui di dunia oleh orang-orang yang ahli di bidangnya.

Untuk lebih jelasnya juga, bila ibu masih menggunakan dot, ibu disarankan segera ke Klinik Laktasi bersama keluarga dan pengasuh untuk diajarkan manajemen laktasi pada ibu bekerja, di antaranya mengenai perah ASI, ASIP handling (penyimpanan dan penyajian ASI Perah), fresh ASIP (ASI Perah segar), pemberian dengan gelas (cup feeding), dan semua tips-tips agar tetap lancar menyusui walaupun ibu bekerja. Saat sesi tersebut, pengasuh bayi akan diajarkan dengan dicontohkan dan dipraktikkan langsung bagaimana memberikan ASIP yang baik dengan gelas sampai pengasuh lancar dan merasa percaya diri melakukannya.

dr. Asti Praborini, SpA, IBCLC
Dokter Laktasi dan Ibu Menyusui di RS Permata Depok
Ketua Tim Laktasi RS Permata Depok
Koordinator Pelatihan Manajemen Laktasi Perinasia Pusat
www.rspermatadepok.com

(hrn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit