detikhealthxx

Jalan Kaki Keliling Australia Demi Istri yang Meninggal karena Sakit Langka

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 04/01/2017 12:35 WIB
Jalan Kaki Keliling Australia Demi Istri yang Meninggal karena Sakit LangkaFoto: ABC Australia
Jakarta, John Olsen sudah pasrah jika harus mengurus istrinya seumur hidup. Kebetulan sang istri, Vida mengidap sebuah kondisi langka yang membuatnya harus bergantung pada orang lain.

Vida dilaporkan mengidap leukodystrophy, salah satu jenis penyakit langka yang menyerang sel-sel otak. Selama bertahun-tahun, John pun berada di sisi Vida untuk mendampingi dan menguatkan sang istri dari berbagai gejala yang dialaminya.

John bahkan sampai hapal dengan berbagai fakta tentang penyakit yang diidap sang istri. "Ini adalah penyakit turunan yang dibawa dari ibu, dan hanya mengenai anak laki-laki. Biasanya fatal," katanya.

Dengan kata lain, kasus istrinya tergolong lebih langka lagi. Apalagi gejala Vida baru muncul belakangan ketika sudah dewasa. "Saya merawatnya selama 8-9 tahun terakhir," lanjut John.

Namun suratan takdir berkata lain. John harus merelakan kepergian Vida tiga tahun lalu karena penyakitnya.

Baca juga: Kasus Langka, Sistem Imun Wanita Ini Menyerang Otaknya Sendiri
John dan istrinya, Vida (Foto: Leukodystrophy Australia)Foto: Leukodystrophy Australia
John dan istrinya, Vida (Foto: Leukodystrophy Australia)

Sejak saat itu, John bertekad untuk mengenang sang istri dengan melakukan perjalanan sejauh lebih dari 5.000 kilometer ke penjuru negeri. Meski telah menginjak usia 65 tahun, pria itu memilih berjalan kaki.

Perjalanan dimulai di Cape York, utara Queensland pada tanggal 31 Maret silam dan mengambil rute diagonal melewati Alice Springs sebelum akhirnya sampai di Cape Leeuwin, Western Australia. Ia sampai di destinasi terakhir, tepat saat malam Natal.

John mengakui jika medan yang ditempuhnya cukup berat, ia kadang hampir menyerah. Tetapi perjalanan itu terus mengingatkan John akan sang istri. John juga berharap upayanya ini dapat meningkatkan kesadaran publik Australia terhadap penyakit yang telah merenggut belahan jiwanya.

"Saya terharu dengan kebaikan orang-orang yang saya jumpai di sepanjang jalan. Saya jadi percaya lagi bahwa masih banyak orang-orang baik di dunia ini," tuturnya seperti dilaporkan ABC Australia.

Lewat perjalanan ini, ia juga berhasil mengumpulkan dana lebih dari 40.000 dollar AS (Rp 537 juta). Dana ini nantinya akan disumbangkan seutuhnya kepada Leukodystrophy Australia. Dari lembaga itu John berharap segera ditemukan obat untuk pasien leukodystrophy. "Semoga dalam 10-15 tahun mendatang," pungkasnya.

Baca juga: Bahaya Meningitis: Bisa Sebabkan Lumpuh, Tuli Hingga Kematian

Dikutip dari Medline Plus, kerusakan sel-sel yang disebabkan leukodystrophy ini berakibat pada perlambatan atau bahkan menghambat jalannya 'sinyal' perintah dari otak ke seluruh tubuh. Oleh karena itu pasien leukodystrophy biasanya bermasalah pada:
- pergerakan
- kemampuan bicara
- penglihatan
- pendengaran
- perkembangan fisik dan mental

Sebagian besar kasus leukodystrophy bersifat genetik atau turunan, dan gejala awal biasanya sudah muncul saat masih bayi atau kanak-kanak. Sayangnya kondisi ini sulit terdeteksi sejak dini karena pada awalnya pasien tampak sehat-sehat saja, namun kemudian gejalanya memburuk dari waktu ke waktu.

Karena belum ditemukan obatnya, sejauh ini pasien leukodystrophy hanya diberi obat-obatan, terapi bicara dan terapi fisik untuk mengatasi gejalanya saja.

(lll/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit