detikhealthxx

Saat Trauma Hampir Kehilangan Anak Bikin Ortu Manjakan si Kecil

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Rabu, 11/01/2017 09:34 WIB
Saat Trauma Hampir Kehilangan Anak Bikin Ortu Manjakan si KecilFoto: thinkstock
Jakarta, Hampir kehilangan buah hati bisa saja membuat orangtua trauma. Karena itulah, ada orang tua yang berjanji melakukan apapun ketika memang sang anak selamat, misalnya setelah melalui sakit parah.

Ini salah satunya dilakukan pembaca detikHealth bernama Yayuk. Wanita 40 tahun ini mengatakan trauma karena hampir kehilangan putranya yang berusia 6,5 tahun akibat mengalami shock saat terserang DBD dua tahun lalu. Nah, tahun lalu, sang anak terserang typus sampai-sampai membuat tubuhnya lemas, pucat, dan seperti akan meninggal.

"Saya sedih sekali pas ingat waktu itu. Makanya waktu anaknya sembuh saya berusaha sebisa mungkin memenuhi keinginannya. Tapi kadang kalau anaknya bandel ya saya omelin juga sih he he he," tutur Yayuk.

Lain Yayuk, lain pula yang dialami seorang ayah bernama Daru. Ia mengatakan, putranya yang kini duduk di bangku kelas 1 SMP pernah sakit dan nyawanya hampir tidak selamat. Kala itu, Daru berjanji akan menuruti apa yang dimaui sang anak.

Alhasil, saat ini sang anak kerap merajuk ketika keinginannya tak dituruti. Kadang kala, Daru juga kewalahan menghadapi sikap sang anak.

Apa yang dialami Yayuk dan Daru bisa merupakan bentuk trauma yang dialami orang tua karena nyaris kehilangan sang anak. Diungkapkan psikolog anak dan keluarga dari Tiga Generasi, Anna Surti Ariani MPsi., Psikolog, trauma semacam ini memang bisa membuat orang tua memperlakukan anak secara tidak rasional.

"Jadi, supaya orang tua bisa kembali rasional, dia harus bisa menangani dulu traumanya. Untuk sampai ke tahap itu, butuh beberapa proses, hingga orang tua akhirnya punya pemahaman bahwa saat ini toh anaknya sudah sehat dan dia tidak lagi terancam kehilangan," terang wanita yang akrab disapa Nina ini saat berbincang dengan detikHealth.

Intinya, lanjut Nina, orang tua perlu menangani trauma yang dialami dan menyadari bahwa si anak sekarang tidak berada pada posisi hampir meninggal. Nah, ketika orang tua sudah bisa menghilangkan traumanya, dia jadi cenderung lebih rasional dalam memperlakukan anaknya. Dengan begitu, dia lebih bisa menelaah perilaku mana yang baik dan kurang baik untuk sang anak.

Baca juga: Begini Akibatnya Jika Orang Tua Menasihati Tanpa Mau Mendengarkan Anak

"Saat orang tua sudah menyadari, kita bisa ajari teknik parenting yang lebih sesuai. Tapi kalau kesadaran itu belum ada, agak sulit. Dan kesadarannya itu kesadaran emosional ya, jadi dia bisa mengatakan bahwa 'saya sudah menerima sekali dulu saya sempat hampir kehilangan makanya saya sampai begitu ke anak saya. Tapi kenyataannya saat ini rasa sayang dan ekspresi sayang saya bisa mengganggu si kecil'," kata Nina.

Jika orang tua sudah tidak trauma, penting juga memberi pengertian ke anak. Sebab, dikatakan Nina, anak bisa merasa perubahan di mana sebelumnya ia dimanja tapi kini orang tuanya malah lebih rasional. Terlebih ketika anak sudah di atas usia 3 tahun, orang tua juga sudah bisa bersikap tegas.

Seperti diungkapkan Nina, di 3 tahun pertama usia anak, yang penting adalah kedekatannya dengan orang tua. Nah, di atas usia 3 tahun, ketegasan perlu dijalankan termasuk saat anak melakukan sesuatu maka akan ada konsekuensi yang dia ambil.

Hal seperti itu nantinya dibutuhkan anak untuk mengakomodir perkembangan kognitif dan emosionalnya. Sehingga, jika tadinya anak belum boleh mendapat hukuman, saat usianya di atas 4 tahun dia sudah bisa mendapat hukuman.

"Justru orang tua tidak perlu merasa terlalu bersalah selama hukumannya relevan, bukan hanya karena orang tuanya emosi dan memang tepat," pungkas wanita yang juga praktik di Lembaga Psikologi Terapan UI ini.

Baca juga: Guru Ini Hukum Anak yang Suka Mengigit Dengan Balas Gigit(rdn/vit)


 

Konsultasi Kesehatan Kirim KonsultasiIndeks



Kalkulator Sehat indeks »
Database Dokter Obat Penyakit
 
Must Read close